SAIBETIK- Sepasang kaki besar melangkah perlahan di tengah kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kamis (1/10/2026). Di antara gajah-gajah lain yang bergerak bebas, seekor gajah betina tampak memiliki kondisi yang berbeda.
Namanya Erin.
Tubuhnya kini terlihat sehat dan kuat. Namun, bagian belalainya tidak lagi utuh. Sebuah luka lama yang bermula dari jerat pemburu liar sekitar satu dekade lalu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya hingga sekarang.
Bagi gajah, belalai bukan sekadar bagian tubuh. Organ tersebut menjadi alat utama untuk mengambil makanan, minum, menyentuh benda, hingga membantu mendinginkan tubuh.
Erin harus menjalani semua itu dengan keterbatasan.
Kisah pilu Erin bermula pada 13 Juli 2016 di kawasan Susukan Baru. Saat itu, Erin masih berusia sekitar 2,5 hingga 3 tahun. Ia ditemukan dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Tubuhnya kurus. Luka pada ujung belalainya telah membusuk. Dalam kondisi tersebut, Erin tidak mampu mengikuti pergerakan kelompoknya hingga akhirnya ditemukan seorang diri.
Tim patroli kemudian melakukan evakuasi dan membawa Erin untuk mendapatkan perawatan.
Sejak saat itu, Sukowiyono (56), seorang mahout yang telah mengabdi sejak 1995, menjadi salah satu sosok penting dalam perjalanan hidup Erin.
“Yang jelas dari laporan kepala resort, terus dari tim patroli kita yang mengambil. Terus dibawa ke sini. Yang jelas sudah luka, luka benar. Itu sekitar umur 2,5 tahun, 3 tahun lah itu. Dulu sendiri. Ditinggal induknya,” kenang Sukowiyono.
Merawat Erin bukan pekerjaan sederhana.
Keterbatasan belalai membuat Erin tidak bisa melakukan sejumlah aktivitas sebagaimana gajah normal. Ia kesulitan mengambil air dan tidak bisa menggunakan belalainya untuk menyiramkan lumpur ke tubuh.
Karena itu, perawatan harus dilakukan lebih ekstra.
“Lebih ekstra. Karena dia putus belalainya, terus enggak seperti gajah lain bisa main lumpur di rawa. Siang kita telaten mandiin lumpur biar dingin badannya. Terus makan juga kita ajarin,” tutur Sukowiyono.
Pada masa awal, Erin bahkan harus dibantu ketika makan. Sukowiyono secara perlahan mengajarinya mengambil makanan menggunakan sisa belalai yang dimiliki.
Pendekatan juga dilakukan dengan memberikan makanan tambahan agar Erin terbiasa kembali berinteraksi dengan manusia.
“Memang sudah ada makanan, cuma kita kasih tambahan dari kita. Biar pendekatan-pendekatan. Ya memang sudah profesi kita dan sudah tupoksi kita di sini sesuai dengan SK. Kita melatih gajah,” ujarnya.
Waktu kemudian berjalan.
Sepuluh tahun setelah ditemukan dalam kondisi nyaris tak berdaya, Erin kini telah tumbuh menjadi gajah betina berusia sekitar 13 tahun.
Tubuhnya berkembang sehat. Namun, keterbatasan fisik tetap membuat Erin memiliki perilaku yang berbeda dari gajah lainnya.
Ia cenderung menyendiri dan terlihat lebih berhati-hati ketika berada di dekat gajah yang berukuran lebih besar.
“Namanya cacat, makanya dia agak minder lah yang jelas itu. Karena lebih besar yang mendekati. Kalau sama yang kecil juga enggak apa-apa,” kata Sukowiyono.
Masa depan Erin masih menunggu arah program konservasi selanjutnya. Namun, bagi Sukowiyono, satu hal tidak berubah: Erin tetap harus dirawat dan didampingi.
“Kita kan nunggu program ini nanti bagaimana. Kita belum tahu. Alhamdulillah sampai sekarang semangat. Tiap hari semangat,” tegasnya.
Erin mungkin tidak akan pernah mendapatkan kembali belalainya seperti semula.
Tetapi hidupnya menjadi bukti bahwa kehilangan bagian tubuh bukan berarti kehilangan kesempatan untuk bertahan.
Sepuluh tahun berlalu, Erin masih berdiri di Way Kambas.
Di balik belalai yang tak lagi utuh, tersimpan kisah panjang tentang luka, perjuangan, adaptasi, dan ketulusan seorang manusia yang memilih menjaga seekor gajah agar tetap bertahan hidup.***







