SAIBETIK- Gerakan Kemanusiaan Pemuda Lampung (GKPL) akan menggelar kegiatan diskusi publik dan bedah film “Pesta Babi” sebagai ruang edukasi masyarakat terkait persoalan lingkungan hidup dan dampak pembangunan terhadap ruang hidup masyarakat.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026 dan terbuka untuk umum, mulai dari mahasiswa, pelajar, komunitas, masyarakat sipil, hingga berbagai elemen masyarakat lainnya.
Melalui pemutaran film “Pesta Babi”, peserta diajak memahami relasi antara pembangunan, eksploitasi sumber daya alam, serta dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
Ketua penyelenggara kegiatan, H. M. Yasir Setiawan, S.E., mengatakan forum tersebut bukan sekadar agenda menonton film bersama, melainkan ruang refleksi dan diskusi terbuka untuk membangun kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah sebagai bentuk edukasi dan penyadaran publik tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup secara bersama-sama,” ujar Yasir dalam siaran persnya.
Ia menyoroti berbagai bencana ekologis yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara yang menurutnya menjadi peringatan serius terkait kerusakan lingkungan.
“Kita melihat bagaimana banjir bandang membawa jutaan potongan kayu hutan. Banyak kawasan hutan perlahan tergantikan oleh aktivitas industri dan perkebunan. Ini bukan hanya persoalan alam, tetapi sudah menjadi bencana kemanusiaan akibat ulah manusia sendiri,” katanya.
Yasir juga menyinggung kondisi lingkungan di Provinsi Lampung, khususnya Kota Bandar Lampung, yang dinilai mulai mengalami tekanan akibat pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan.
“Banjir semakin sering terjadi karena bukit digunduli, aliran sungai menyempit, dan ruang resapan air terus berkurang. Ini menjadi peringatan bahwa pembangunan tanpa keseimbangan akan membawa dampak besar di masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan ini akan menghadirkan berbagai pemantik diskusi dari beragam latar belakang, mulai dari akademisi, politisi, birokrat, pemerhati adat, pemerhati lingkungan hidup, jurnalis, praktisi hukum, hingga penggerak sosial.
Forum tersebut diharapkan mampu menghadirkan perspektif yang luas dan berimbang terkait isu lingkungan hidup, kehutanan, ruang hidup masyarakat, serta tantangan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
“Kami ingin forum ini menjadi ruang terbuka untuk berdiskusi, bertukar pandangan, dan menyampaikan pendapat secara sehat,” jelasnya.
Yasir berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan hidup sekaligus mendorong lahirnya kesadaran kolektif dalam menjaga alam untuk generasi mendatang.
“Kita tentu ingin pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berjalan, tetapi jangan sampai mengorbankan hutan, sungai, dan ruang hidup yang merupakan warisan bagi generasi mendatang,” tutupnya.
Kegiatan akan dilaksanakan secara terbatas dengan sistem pendaftaran peserta terlebih dahulu. Informasi lebih lanjut dan pendaftaran dapat dilakukan melalui nomor panitia 085832090766.***







