SAIBETIK- Perjuangan panjang Nurdinmansyah dan Fitri Wanti, pasangan suami istri asal Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung, akhirnya membuahkan hasil manis. Di tengah keterbatasan ekonomi, keduanya berjuang membiayai pendidikan anak-anak mereka dengan mengandalkan upah sebagai guru honorer, keuntungan berjualan gorengan, hingga pekerjaan sampingan sebagai pembawa acara atau master of ceremony (MC).
Sedikit demi sedikit, uang yang terkumpul dari hasil kerja keras itu disisihkan untuk biaya pendidikan. Bahkan, tabungan mereka kerap bermula dari uang seribu, lima ribu, hingga sepuluh ribu rupiah.
Perjuangan tersebut kini mengantarkan putri kedua mereka, Seppira Azzahra, meraih gelar Sarjana Hukum (SH) dari Universitas Saburai, Bandar Lampung. Seppira lulus dengan IPK 3,84 dan meraih predikat lulusan terbaik kedua Fakultas Hukum dalam wisuda pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Sebelumnya, putri pertama mereka, Hani, juga telah menyelesaikan pendidikan sarjana. Pencapaian kedua anak itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Nurdinmansyah dan Fitri Wanti, yang selama bertahun-tahun berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memperjuangkan pendidikan anak-anaknya.
Menabung dari Upah Honorer dan Hasil Jualan Gorengan
Bagi Nurdinmansyah dan Fitri Wanti, menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi bukan perkara mudah. Penghasilan sebagai guru honorer yang mereka terima disebut tidak mencapai Rp1 juta dalam tiga bulan.
Untuk menambah pemasukan, keduanya berjualan gorengan pada sore hingga menjelang tengah malam setelah menyelesaikan pekerjaan mengajar. Nurdinmansyah juga mengambil pekerjaan sebagai MC ketika mendapat panggilan untuk memandu acara, termasuk pesta pernikahan.
Dari berbagai sumber penghasilan tersebut, mereka berusaha menyisihkan uang sedikit demi sedikit demi memenuhi kebutuhan kuliah anak-anaknya di Bandar Lampung.
“Alhamdulillah, dari seribu, lima ribu, sepuluh ribu kita nabung untuk biaya kuliah anak, sekarang buahnya manis. Tuhan juga sayang dengan keluarga kami. Alhamdulillah saya bisa jadi MC. Jadi, kalau ada nikahan saya sering dapat job dan bisa menyisihkan uang untuk biaya anak di kota,” ujar Nurdinmansyah, warga Banjit, Way Kanan.
Di balik perjuangan itu, Fitri Wanti juga pernah menghadapi situasi yang menguras perasaan. Ia mengaku sempat menangis ketika kepala sekolah tempatnya mengajar dahulu meminta keluarganya berhenti berjualan dan fokus menjalani pekerjaan sebagai guru honorer.
Menurut Fitri, penghasilan dari pekerjaan tersebut sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar tagihan listrik, hingga membiayai pendidikan anak-anak yang tinggal jauh dari rumah.
Namun, keterbatasan itu tidak membuat mereka menyerah. Nurdinmansyah dan Fitri terus bekerja, menabung, dan mempertahankan harapan agar anak-anak mereka dapat memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Seppira Tumbuh Mandiri Bersama Kakek dan Nenek
Dalam perjalanan pendidikannya, Seppira tidak tinggal bersama kedua orang tuanya di Way Kanan. Ia menetap di rumah kakek dan neneknya di Bandar Lampung, H. Husin Syahri, seorang purnawirawan polisi, dan Hj. Siti Aminah.
Seppira menjalani kehidupan bersama keluarga besarnya, termasuk sang tante, Fani, yang turut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan uang jajannya. Kakaknya, Hani, juga pernah tinggal di rumah yang sama ketika menempuh pendidikan.
Kehidupan jauh dari orang tua membuat Seppira belajar mandiri sejak dini. Ia juga ikut membantu mengurus kebutuhan kakek dan neneknya, terutama ketika kondisi kesehatan keduanya menurun akibat faktor usia.
Di rumah tersebut, Seppira mendapat pendidikan kedisiplinan yang kuat dari sang nenek. Ia terbiasa menjaga kerapian kamar, membantu pekerjaan rumah, dan mematuhi aturan waktu pulang.
Kedisiplinan itu menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Seppira tetap berusaha menjalankan kewajiban akademik sekaligus membantu keluarga yang merawatnya selama menempuh pendidikan.
Fitri Wanti menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya yang telah menerima dan menjaga Seppira selama tinggal jauh dari dirinya dan Nurdinmansyah. Ia menilai pendidikan serta ketegasan yang diberikan sang kakek dan nenek ikut membentuk karakter putrinya.
“Terima kasih tak terhingga untuk kedua almarhum orang tua saya. Selain telah melahirkan dan merawat saya, mereka juga tetap memberikan yang terbaik untuk Seppira hingga bisa menjadi lulusan terbaik,” ujar Fitri.
Menurut Fitri, kelima anak dari H. Husin Syahri dan Hj. Siti Aminah telah menempuh jalan hidup masing-masing, mulai dari menjadi sarjana hingga berkarier sebagai polisi dan manajer di maskapai penerbangan.
Mengajar Mengaji hingga Bekerja di Kafe
Di tengah kesibukan kuliah, Seppira juga berusaha memanfaatkan waktu untuk melakukan berbagai kegiatan. Berbekal pendidikan agama Islam yang pernah ditempuh di pesantren, ia turut mengajarkan mengaji kepada anak-anak dan remaja di lingkungan sekitar.
Baginya, belajar agama tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami pentingnya menghormati orang tua dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Seppira juga pernah bekerja di sebuah kafe ketika menjalani masa perkuliahan dan menyelesaikan skripsi. Aktivitas itu dijalaninya sembari tetap menjaga kedisiplinan dan membantu pekerjaan rumah.
“Pernah saya juga dipercaya beberapa orang tua untuk mengajarkan anaknya mengaji. Kalau soal waktu, pintar-pintar kita saja membaginya dan asalkan jangan sampai telat pulang ke rumah nenek. Nenek orangnya disiplin, kalau pulang harus tepat waktu dan kamar tidak boleh berantakan,” kata Seppira.
Ia mengaku pendidikan dari orang tua, kakek, nenek, serta keluarga besarnya menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan.
“Ibu saya kebetulan sarjana dan berprofesi sebagai guru, ayah saya juga sama. Kalau malam mereka jualan gorengan demi memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anaknya. Terima kasih, Ayah dan Ibu. Sekarang Pira sudah sama seperti Kakak, Pira sudah belajar dan lulus sebagai sarjana hukum,” tuturnya.
Sebelum resmi diwisuda, Seppira juga disebut telah dipercaya menjabat sebagai manajer kafe. Pencapaian itu menambah pengalaman kerja yang dapat menjadi bekal untuk menapaki jenjang karier berikutnya.
Buah Perjuangan dan Harapan Masa Depan
Perjalanan keluarga Nurdinmansyah dan Fitri Wanti memperlihatkan bagaimana pendidikan menjadi cita-cita yang diperjuangkan bersama. Penghasilan terbatas tidak menghalangi keduanya untuk terus menyisihkan uang, sementara Seppira berusaha membalas perjuangan tersebut melalui pendidikan, kemandirian, dan kedisiplinan.
Kini, setelah Hani dan Seppira sama-sama menyandang gelar sarjana, perjuangan panjang itu menghadirkan kebanggaan bagi keluarga. Keberhasilan tersebut juga menjadi penghormatan bagi H. Husin Syahri dan Hj. Siti Aminah yang turut berperan dalam mendampingi Seppira selama menempuh pendidikan jauh dari orang tuanya.
Bagi Nurdinmansyah dan Fitri Wanti, setiap rupiah yang dikumpulkan dari honor mengajar, penjualan gorengan, dan pekerjaan sebagai MC menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju masa depan anak-anak mereka.
Gelar sarjana hukum yang kini diraih Seppira bukanlah akhir dari perjalanan. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi maupun mengembangkan karier masih terbuka, selama disertai kemauan, kerja keras, dan kesempatan.
Dari tabungan recehan hingga hasil kerja keras bertahun-tahun, kisah keluarga ini menjadi pengingat bahwa perjuangan orang tua kerap hadir melalui pengorbanan sederhana yang dilakukan tanpa henti.***






