SAIBETIK- Puisi bukan sekadar karya tulis dengan cara mengindah-indahkan, namun menulis puisi untuk mengabarkan.
Hal itu dikatakan Nanang R Supriyatin pada hari kedua Bengkel Sastra 2026 di Villa Dangau Kedaung, Kemiling, Bandar Lampung, Rabu 26 Agustus 2026.
Penyair asal Jakarta itu menjelaskan, menulis puisi bisa dilakukan dari hal-hal yang dekat, mengolah ide tentang banyak hal yang menjadi pengalaman pribadi untuk dikabarkan kepada khalayak.
“Ingat, puisi adalah cara kita menyentuh kehidupan dengan kaya dan membangunkan jiwa yang tertidur,” lanjut Nanang.
Dia melanjutkan, puisi modern atau puisi yang kita kenal sekarang, karena penyair punya kebebasan penuh atau merdeka. “Puisi dibangin atas kekuatan makna, kejujuran, dan keunikan metafora, serta pilihan kata (diksi),” imbuh dia.
Nanang lebih mengenalkan bangunan puisi, seperti diksi, metafora, smille, dan lain-lain.
Selain penyair asal Jakarta itu, hadir menjadi pemateri adalah pemenang Kusala 2026 untuk buku puisi “Nusantara, Amnesia” Ari Pahala Hutabarat, penerima buku puisi terbaik untuk “Di Alun-Alun itu Ada Kalian, Kupukupu, dan Pelangi” dari Festival Hujan Banjarbaru, Kalimantan Selatan Isbedy Stiawan ZS, dan akademisi Prodi Bahasa Lampung Unila Yinda Dwi Gustiara.
Bengkel Sastra 2026 ini dukungan Badan Bahasa Kemendikdasmen RI dan Balai Bahasa Provinsi Lampung, berlangsung hingga 28 Agustus 2026.
Hasil dari bengkel penulisan puisi para peserta menyerahlan 2 atau 3 puisi bertema bebas. Puisi mereka akan dialihbahasa ke bahasa Lampung. Buku puisi diterbitkan dalam dwibahasa.***





