SAIBETIK- Kelompok seni DianArza Arts Laboratory (DAAL) kembali menorehkan karya kreatif melalui pementasan tari berjudul “Naniyu” yang digelar di Taman Budaya Lampung. Pertunjukan ini merupakan bagian dari program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif (PKKI) berbasis tradisi yang didukung Kementerian Kebudayaan RI melalui skema hibah DanaIndonesia.
Karya “Naniyu” telah dipentaskan pada 30 April 2026 dan berhasil menarik perhatian lebih dari 350 penonton yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Pementasan ini tidak hanya menjadi tontonan seni, tetapi juga sarana edukasi budaya yang mengangkat nilai-nilai tradisi dalam kemasan kontemporer.
Koreografer “Naniyu”, Yovi Sanjaya, menjelaskan bahwa karya ini lahir dari refleksi terhadap tampah beras sebagai objek budaya yang memiliki makna simbolik dalam kehidupan masyarakat. Dalam garapannya, tampah tidak hanya dipandang sebagai benda tradisional, tetapi juga simbol nilai yang mengalami transformasi di tengah perubahan zaman.
“Secara artistik, karya ini memadukan eksplorasi gerak tubuh, penggunaan properti tampah sebagai bagian dari tubuh, musik internal dari bunyi beras, serta elemen visual seperti cahaya dan kostum kontemporer. Tubuh menjadi pusat pengalaman untuk membaca ulang tradisi,” ujarnya.
Menurut Yovi, pendekatan ini bertujuan untuk menghadirkan kembali nilai tradisi dalam ruang yang lebih komunikatif dan relevan bagi generasi masa kini, tanpa melepaskan akar budayanya.
Sementara itu, dramaturg “Naniyu”, Putra Agung, menegaskan bahwa karya ini bukan sekadar pertunjukan tari, melainkan ruang refleksi atas hubungan manusia dengan tradisi di era modern.
“Kami tidak ingin kembali ke masa lalu, tetapi memahami tradisi sebagai sesuatu yang bisa dibawa ke masa depan melalui pendekatan baru,” jelasnya.
Ia menambahkan, karya ini berupaya mengolah simbol budaya lokal menjadi bahasa gerak kontemporer tanpa menghilangkan nilai dasarnya, sekaligus menjadi upaya pelestarian budaya agar lebih mudah dipahami generasi saat ini.
Pementasan ini melibatkan lima orang penari serta mendapat pembahasan artistik dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Darmawan Dadijono (maestro tari Indonesia ISI Yogyakarta), Iswadi Pratama (maestro teater Teater Satu), dan Riyan Hidayullah (musikolog Universitas Lampung).
Melalui “Naniyu”, DAAL menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya menampilkan estetika seni, tetapi juga mengajak publik untuk merefleksikan ulang posisi tradisi dalam kehidupan modern yang terus berkembang.***





