SAIBETIK- OPINI | Membaca Marx dengan jernih: tidak mengkultuskan, tidak pula menghakimi
Oleh: Kgs Bambang Utoyo
Karl Marx pernah menulis kalimat yang sangat terkenal:
“Agama adalah candu bagi rakyat.”
Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu ungkapan yang paling sering dikutip sekaligus paling sering disalahpahami dalam sejarah pemikiran modern.
Banyak orang membacanya secara sederhana: Marx membenci agama, menganggap orang beragama sebagai manusia lemah atau bodoh, bahkan ingin manusia meninggalkan Tuhan.
Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.
Untuk memahami kritik Marx terhadap agama, kita perlu terlebih dahulu memahami dunia yang sedang ia lihat.
Marx dan Dunia yang Melahirkan Kritik terhadap Agama
Marx hidup pada abad ke-19, ketika Revolusi Industri membawa perubahan sosial yang sangat besar.
Pabrik-pabrik berkembang, kota-kota tumbuh, dan produksi meningkat. Namun di balik kemajuan tersebut, kehidupan banyak buruh justru berlangsung dalam kondisi yang keras.
Jam kerja panjang, upah rendah, kondisi kerja buruk, kemiskinan, serta ketimpangan antara pemilik modal dan pekerja menjadi bagian dari realitas sosial pada masa itu.
Di tengah kondisi tersebut, manusia membutuhkan sesuatu yang membuat penderitaan terasa lebih dapat ditanggung.
Agama memberikan penghiburan.
Orang yang menderita masih memiliki harapan. Orang miskin masih percaya bahwa kehidupan memiliki keadilan yang lebih tinggi. Orang yang tertindas masih memiliki keyakinan bahwa penderitaannya tidak sia-sia.
Di sinilah Marx melihat agama memiliki fungsi sosial tertentu.
Ia tidak semata-mata melihat agama sebagai seperangkat keyakinan, tetapi juga melihat bagaimana agama berhubungan dengan manusia yang hidup dalam kondisi sosial tertentu.
Karena itu, ungkapan “agama adalah candu” tidak tepat jika langsung diterjemahkan menjadi:
“Marx mengatakan orang beragama itu bodoh.”
Kritiknya jauh lebih kompleks.
Ketika Penghiburan Berubah Menjadi Pembiusan
Candu memiliki fungsi mengurangi rasa sakit. Namun candu tidak menghilangkan sumber penyakit.
Analogi inilah yang membuat kritik Marx tetap menarik untuk dibicarakan.
Bayangkan seseorang mengalami penderitaan. Ia merasa sakit. Kemudian ia memperoleh penghiburan yang membuat rasa sakit itu menjadi lebih ringan.
Penghiburan tentu bukan sesuatu yang buruk.
Manusia membutuhkan penghiburan.
Masalah muncul ketika penghiburan membuat manusia berhenti bertanya tentang sumber penderitaannya.
Seorang pekerja mendapatkan upah yang sangat rendah. Ia mengeluh. Kemudian seseorang berkata:
“Bersabarlah. Ini sudah takdir. Ikhlaskan saja.”
Kalimat tersebut bisa menjadi nasihat yang baik.
Namun bisa pula menjadi alat pembungkaman.
Sebab masih ada pertanyaan yang harus dijawab:
Mengapa upahnya rendah?
Apakah ia diperlakukan secara adil?
Siapa yang menentukan kondisi tersebut?
Siapa yang mendapatkan keuntungan dari keadaan itu?
Jika seluruh pertanyaan tersebut ditutup hanya dengan kata “sabar”, persoalan sosial dapat berubah menjadi persoalan penerimaan pribadi.
Di sinilah kritik Marx memiliki daya gugah.
Ia mengingatkan bahwa penderitaan manusia tidak selalu cukup dijawab dengan penghiburan. Kadang manusia juga membutuhkan perubahan terhadap keadaan yang menyebabkan penderitaan itu.
Ketika Kesabaran Dipakai untuk Membungkam
Namun di sinilah kita harus berhati-hati.
Marx tidak sedang membahas secara khusus ajaran Islam mengenai ikhlas, sabar, tawakal, atau takdir.
Karena itu, tidak tepat jika dikatakan:
“Marx membuktikan bahwa ikhlas adalah candu.”
Tidak.
Ikhlas tidak sama dengan menyerah kepada kezaliman.
Sabar tidak berarti membiarkan orang lain berbuat semena-mena.
Tawakal tidak berarti berhenti berusaha.
Seseorang dapat menerima takdir Allah sekaligus melawan kezaliman manusia.
Seorang pekerja dapat bersabar menghadapi kesulitan sekaligus menuntut upah yang adil.
Seorang rakyat dapat menerima bahwa kehidupan memiliki ujian sekaligus menolak korupsi dan kesewenang-wenangan.
Karena itu, yang harus dikritik bukan ikhlasnya.
Yang perlu dikritik adalah ketika kata “ikhlas” digunakan untuk membungkam orang yang sedang dizalimi.
Begitu pula dengan kesabaran.
Ada perbedaan besar antara:
“Bersabarlah, tetapi tetap perjuangkan keadilan.”
dan:
“Bersabarlah agar keadaan tidak perlu berubah.”
Yang pertama dapat menjadi kekuatan.
Yang kedua berpotensi menjadi pembiusan.
Ketika Candu Diracik oleh Tangan Kekuasaan
Di sinilah metafora Marx menjadi semakin menarik.
Persoalannya bukan hanya ketika agama memberikan penghiburan kepada manusia yang sedang menderita.
Persoalan menjadi jauh lebih serius ketika “opium” itu diracik oleh tangan kekuasaan tirani, kemudian disalurkan melalui suara agamawan yang berada di sekitar kekuasaan.
Pada titik itu, agama dapat berubah menjadi bahasa legitimasi.
Penguasa melakukan kesalahan, tetapi rakyat diminta bersabar.
Korupsi terjadi, tetapi rakyat diminta ikhlas.
Hak dirampas, tetapi rakyat diminta tawakal.
Ketidakadilan terjadi, tetapi rakyat diminta menerima semuanya sebagai takdir.
Sementara pihak yang bertanggung jawab tidak benar-benar diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Ada perbedaan antara agama yang menghibur korban dan agama yang digunakan untuk melindungi pelaku.
Yang pertama memiliki fungsi kemanusiaan.
Yang kedua menjadi persoalan kekuasaan.
Ketika bahasa agama digunakan untuk menenangkan korban, tetapi tidak digunakan untuk menegur pelaku, sesuatu telah terbalik.
Yang lemah diminta bersabar, sementara yang kuat dibiarkan berbuat sesuka hati.
Pada titik itulah kritik Marx menjadi relevan sebagai bahan refleksi.
Ketika Bahasa Suci Memberi Legitimasi kepada Kekuasaan
Kekuasaan tidak selalu membutuhkan kekerasan untuk mempertahankan dirinya.
Kadang kekuasaan hanya membutuhkan legitimasi.
Jika rakyat percaya bahwa kekuasaan tersebut sah secara moral, perlawanan terhadapnya dapat menjadi lebih sulit.
Di sinilah bahasa agama dapat menjadi sangat kuat.
Penguasa mungkin berkata:
“Saya menjalankan pemerintahan.”
Kemudian seorang agamawan dapat mengatakan:
“Bersabarlah. Jangan banyak mempertanyakan pemimpin.”
Penguasa mungkin dituduh melakukan ketidakadilan. Namun jika ketidakadilan itu dibungkus dengan bahasa agama, kritik terhadap penguasa dapat dibuat seolah-olah menjadi kritik terhadap agama.
Ini yang perlu diwaspadai.
Kekuasaan dapat meminjam kesucian agama, sementara sebagian agamawan dapat memperoleh akses dan pengaruh melalui kedekatan dengan kekuasaan.
Penguasa memperoleh legitimasi.
Agamawan memperoleh kedudukan.
Sementara rakyat bisa saja hanya mendapatkan nasihat untuk bersabar.
Namun kita juga harus adil.
Tidak setiap agamawan yang dekat dengan pemerintah merupakan alat kekuasaan.
Tidak setiap kerja sama antara agama dan negara merupakan sesuatu yang buruk.
Seorang agamawan dapat masuk ke pemerintahan justru untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Yang menjadi persoalan bukan semata-mata di mana seseorang duduk.
Persoalannya adalah:
Apakah ia masih mampu mengatakan kebenaran ketika kebenaran itu merugikan pihak yang memberinya posisi?
Ketika Agamawan Duduk di Kursi Kekuasaan
Seorang agamawan boleh berada di dekat penguasa.
Namun ia tidak boleh kehilangan keberanian untuk mengatakan bahwa penguasa bisa salah.
Ia boleh masuk ke istana. Tetapi jangan sampai setelah masuk istana, ia kehilangan kemampuan melihat penderitaan rakyat di luar istana.
Sebab kedekatan dengan kekuasaan merupakan ujian moral.
Kemiskinan menguji manusia melalui kekurangan.
Kekuasaan menguji manusia melalui kenyamanan.
Kekurangan dapat membuat seseorang putus asa.
Kenyamanan dapat membuat seseorang lupa.
Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukan apakah seorang agamawan berada di dalam atau di luar kekuasaan.
Pertanyaannya:
Ketika ia berada di dalam kekuasaan, kepada siapa kesetiaan moralnya diberikan?
Kepada jabatan?
Kepada pemberi jabatan?
Atau kepada kebenaran?
Agama seharusnya memiliki jarak moral terhadap kekuasaan.
Bukan berarti agama harus selalu menjadi oposisi. Tetapi agama harus tetap mampu mengingatkan bahwa kekuasaan bukan Tuhan.
Penguasa bisa salah.
Negara bisa salah.
Mayoritas bisa salah.
Dan agamawan juga bisa salah.
Karena itu, tidak boleh ada manusia yang memperoleh kekebalan moral hanya karena memiliki jabatan atau berbicara menggunakan simbol-simbol agama.
Marx Benar, tetapi Tidak Sepenuhnya
Sampai di sini, kita dapat melihat bahwa kritik Marx memiliki kekuatan.
Ia relevan ketika agama digunakan untuk membuat manusia menerima penderitaan dan ketidakadilan tanpa mempertanyakan penyebabnya.
Ia juga membantu mengingatkan bahwa manusia perlu melihat kondisi nyata yang menyebabkan penderitaan, bukan hanya memberikan penghiburan.
Kritiknya juga berguna untuk melihat kemungkinan agama menjadi bagian dari mekanisme legitimasi kekuasaan.
Namun di sinilah batas kritik Marx mulai terlihat.
Jika seluruh agama direduksi menjadi akibat penderitaan atau alat dominasi, penjelasannya menjadi terlalu sempit.
Sebab orang kaya juga beragama.
Orang yang hidup nyaman juga beragama.
Masyarakat yang makmur pun masih mencari Tuhan.
Manusia tidak hanya bertanya tentang makanan, pekerjaan, dan uang.
Manusia juga bertanya:
Mengapa saya hidup?
Apa tujuan kehidupan?
Apa yang benar dan salah?
Apa yang terjadi setelah kematian?
Apakah ada sesuatu yang melampaui kehidupan duniawi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak seluruhnya dapat dijelaskan melalui ekonomi, kelas, atau hubungan produksi.
Di sinilah keterbatasan pendekatan Marx terlihat.
Ia memberikan alat yang tajam untuk membaca agama sebagai fenomena sosial. Namun alat tersebut tidak cukup untuk menjelaskan seluruh pengalaman manusia tentang Tuhan.
Marx Tidak Membuktikan Tuhan Tidak Ada
Hal lain yang perlu ditegaskan adalah bahwa kritik Marx terhadap agama bukanlah pembuktian ilmiah bahwa Tuhan tidak ada.
Ia mengkritik fungsi dan posisi agama dalam kehidupan manusia dan masyarakat.
Pertanyaan:
“Apa yang dilakukan agama terhadap manusia dan masyarakat?”
berbeda dengan:
“Apakah Tuhan benar-benar ada?”
Keduanya tidak boleh dicampuradukkan.
Karena itu, tidak tepat mengatakan:
“Marx sudah membuktikan Tuhan tidak ada.”
Namun orang beragama juga tidak cukup mengatakan:
“Karena Tuhan ada, maka semua kritik Marx pasti salah.”
Kritik sosial tetap perlu dijawab.
Jika agama digunakan untuk membenarkan korupsi, kita perlu mengkritiknya.
Jika agama digunakan untuk melindungi penindasan, kita perlu mengkritiknya.
Jika orang yang dizalimi diminta bersabar sementara orang yang menzalimi tidak pernah ditegur, kita perlu mempertanyakannya.
Iman tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berpikir.
Ketika Agama Justru Membangunkan Manusia
Sejarah manusia juga menunjukkan bahwa agama tidak selalu membuat manusia tunduk.
Agama dapat menjadi sumber keberanian.
Ada orang yang menggunakan keyakinannya untuk membela kaum miskin.
Ada yang melawan korupsi.
Ada yang menolak penindasan.
Ada yang rela kehilangan harta, kedudukan, bahkan keselamatan dirinya demi mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.
Artinya, agama memiliki kemungkinan yang berlawanan.
Agama bisa membuat manusia pasrah.
Tetapi agama juga bisa membuat manusia berani melawan.
Agama bisa menjadi alat kekuasaan.
Tetapi agama juga bisa menjadi suara yang mengkritik kekuasaan.
Agama bisa membuat seseorang menerima keadaan.
Tetapi agama juga bisa membuat seseorang berdiri dan berkata:
“Tidak. Ini tidak adil.”
Karena itu, mengatakan bahwa agama selalu merupakan alat penguasa sama sederhananya dengan mengatakan bahwa agama selalu membebaskan manusia.
Keduanya tidak sepenuhnya tepat.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Agama sedang digunakan untuk apa?
Candu Manusia Modern Telah Berganti Bentuk
Ada ironi dalam masyarakat modern.
Manusia semakin jauh dari agama, tetapi tidak otomatis menjadi bebas dari “candu”.
Manusia tetap mencari sesuatu untuk melupakan kegelisahan.
Ada yang tenggelam dalam uang.
Ada yang mengejar jabatan.
Ada yang tidak bisa lepas dari media sosial.
Ada yang hidup hanya untuk pekerjaan.
Ada yang terus membeli barang agar merasa bahagia.
Ada yang mengejar popularitas dan pengakuan.
Bentuk candunya berubah.
Namun kebutuhan manusia untuk melarikan diri dari kegelisahan tetap ada.
Maka pertanyaan Marx dapat kita balik:
Jika agama adalah candu, lalu apa candu manusia modern?
Jangan-jangan manusia tidak pernah benar-benar berhenti mencari candu.
Ia hanya mengganti bentuknya.
Persoalan yang lebih dalam mungkin bukan apakah manusia membutuhkan “candu”, tetapi apakah manusia memiliki keberanian untuk menghadapi kenyataan tanpa terus-menerus melarikan diri darinya.
Yang Harus Ditakuti Bukan Agama, tetapi Agama yang Kehilangan Keberanian Moral
Kritik Marx tidak selalu harus diperlakukan sebagai musuh.
Kadang kritik dari luar justru membantu agama bercermin.
Agama perlu bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah saya sedang menguatkan orang yang lemah?
Atau saya sedang membuat orang lemah menerima keadaan yang sebenarnya tidak adil?
Jika penguasa korup meminta rakyat bersabar, kita perlu bertanya.
Jika orang kaya mengeksploitasi pekerja lalu meminta pekerjanya ikhlas, kita perlu bertanya.
Jika orang yang dizalimi diminta menerima keadaan sementara pelaku kezaliman tidak pernah diminta bertanggung jawab, kita perlu bertanya.
Dalam keadaan seperti itu, kritik Marx menjadi berguna.
Namun agama juga dapat mengajukan kritik balik kepada Marx.
Manusia bukan hanya makhluk ekonomi.
Manusia bukan hanya buruh dan pemilik modal.
Manusia juga makhluk yang mencintai, berharap, takut, menderita, mencari makna, mencari kebenaran, dan bertanya tentang Tuhan.
Marx membantu kita melihat satu sisi manusia dengan sangat tajam.
Namun manusia lebih luas daripada sisi yang berhasil ia jelaskan.
Sampai di Mana Kritik Karl Marx Benar?
Mungkin jawaban paling adil adalah:
Marx relevan sampai pada titik ketika agama digunakan untuk membius manusia dari kenyataan ketidakadilan.
Namun kritiknya menjadi terbatas ketika agama dipahami hanya sebagai akibat penderitaan atau alat dominasi.
Manusia tidak beragama hanya karena miskin.
Manusia mencari Tuhan bukan hanya karena menderita.
Dan agama tidak selalu membuat manusia pasrah.
Kadang agama justru membuat manusia bangkit.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Apakah agama adalah candu?”
Melainkan:
“Agama yang kita jalani membuat kita tertidur atau membuat kita sadar?”
Jika agama membuat kita diam ketika melihat kezaliman, kritik Marx layak didengar.
Jika agama membuat kita membela yang lemah, menolak korupsi, memperjuangkan keadilan, dan melawan kesewenang-wenangan, maka agama tidak berhenti sebagai penghiburan.
Ia dapat menjadi kekuatan untuk bangun dan bertindak.
Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya:
Apakah agama adalah candu?
Tetapi:
Siapa yang meracik candu itu, siapa yang membagikannya, dan untuk kepentingan siapa?
Sebab ada perbedaan besar antara agama yang menghibur manusia agar mampu bangkit dan agama yang digunakan untuk membuat manusia tidak pernah bangun.
Ada perbedaan antara:
“Bersabarlah, lalu perjuangkan keadilan.”
dan:
“Bersabarlah agar kami tidak perlu mempertanggungjawabkan ketidakadilan.”
Yang pertama dapat memberi kekuatan.
Yang kedua berpotensi menjadi pembungkaman.
Ketika “opium” diracik oleh tangan kekuasaan yang menindas, lalu disampaikan melalui agamawan yang berada di lingkungan kekuasaan, kritik Marx layak dibaca dengan serius.
Namun kita tidak harus berhenti pada Marx.
Kita dapat melangkah lebih jauh.
Agama tidak boleh menjadi candu bagi rakyat.
Tetapi agama juga tidak boleh menjadi stempel kesucian bagi kekuasaan.
Agama seharusnya menjadi suara yang menghibur orang yang menderita sekaligus suara yang mengingatkan orang yang berkuasa.
Ia harus mampu berkata kepada yang lemah:
“Bersabarlah, tetapi jangan kehilangan harapan.”
Dan kepada yang kuat:
“Berkuasalah, tetapi jangan menjadi zalim.”
Sebab agama yang kehilangan keberanian untuk mengkritik kekuasaan akan mudah berubah menjadi alat kekuasaan.
Dan kekuasaan yang berhasil menguasai bahasa agama akan memiliki sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar aparat dan aturan: legitimasi moral.
Di situlah kritik Marx berhenti menjadi sekadar kritik terhadap agama.
Ia berubah menjadi pertanyaan moral kepada siapa pun yang memegang kekuasaan:
“Apakah yang Anda berikan kepada rakyat adalah harapan untuk bangkit—atau candu agar mereka tetap diam?”
Pertanyaan itu bukan hanya ditujukan kepada penguasa.
Ia juga ditujukan kepada para agamawan, para intelektual, para pemimpin, dan kepada kita semua.
Sebab setiap kali kita menyuruh orang lain bersabar, kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita sedang menguatkan mereka untuk menghadapi ketidakadilan, atau sedang mencari alasan agar kita sendiri tidak perlu menghadapi ketidakadilan itu?
Manusia bukan hanya makhluk yang ingin bebas dari penderitaan.
Manusia adalah makhluk yang mencari makna, kebenaran, keadilan, dan tujuan hidup.
Dan agama, jika benar-benar ingin menjadi kekuatan moral, seharusnya tidak membuat manusia tertidur di hadapan kezaliman.
Agama seharusnya menjadi cahaya yang membuat manusia mampu melihat kenyataan—termasuk ketika kenyataan itu menunjukkan bahwa yang berkuasa sedang berbuat salah.***






