SAIBETIK- Hingga kini, Yas, oknum guru ASN yang dilaporkan terkait dugaan pencabulan anak di bawah umur ke Mapolres Lampung Selatan, tidak tampak di wilayah Kecamatan Sidomulyo. Hal itu setidaknya terlihat di Desa Sidodadi, tempat Yas berdomisili, maupun di SMPN 1 Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan.
Kepala Desa Sidodadi, Sigig Edi Lukman, menyatakan dirinya tidak pernah lagi melihat Yas setelah kejadian terakhir saat yang bersangkutan diamankan Mapolsek Sidomulyo akibat digerebek warga pada akhir Agustus lalu.
“Sejak kejadian itu Yas tidak pernah lagi kelihatan di desa, tetapi anak dan istrinya ada,” kata Sigig Edi Lukman, Kepala Desa Sidodadi, Kecamatan Sidomulyo, melalui sambungan telepon, Rabu, 23 September 2026.
Saat ditanya mengenai pengunduran diri Yas dari jabatannya sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sidodadi, Sigig membenarkan hal tersebut.
Menurutnya, Yas telah membuat surat pengunduran diri dan surat tersebut sudah diserahkan kepada Wakil Ketua BPD Desa Sidodadi.
“Ya, ada surat pengunduran dirinya dengan alasan pindah tempat tinggal,” ujar Sigig.
Namun, surat pengunduran diri tersebut hingga kini belum sampai ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) maupun Kantor Kecamatan Sidomulyo.
“Usulan pergantian pengurus BPD itu memang ke PMD, tapi melalui kecamatan,” ujar Erdiyansah, SH, Kepala Dinas PMD.
Hal senada disampaikan Camat Sidomulyo Frans Sinatra Adung, Sp. MM.
“Sampai saat ini surat pengunduran diri itu belum sampai meja saya, mungkin masih dalam proses di desa,” ujar Frans.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Sidomulyo, Sukma Elina, mengatakan Yas tidak pernah hadir di sekolah sejak 9 September 2026.
“Dia hadir saat diberi teguran pertama secara lisan. Saat teguran kedua dia tidak hadir dengan alasan sakit. Nanti akan dipanggil lagi,” ujar Sukma Elina melalui panggilan WhatsApp, Rabu sore, 23 September 2026.
Di tengah tidak terlihatnya Yas di Sidomulyo, muncul informasi dari sumber wartawan mengenai keberadaannya di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.
“Ada kok di Rawi, kemarin subuh saya melihat dia ada di masjid,” ujar sumber wartawan di Desa Rawi, Rabu, 23 September 2026.
Informasi tersebut masih berasal dari keterangan sumber dan belum diperoleh konfirmasi langsung dari Yas mengenai keberadaannya.
Kunjungan Tim Assessment Psikologi Klinis DP3A
Sementara itu, sehari sebelumnya, Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB, tim assessment psikologi klinis dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Lampung Selatan berkunjung ke rumah keluarga korban.
Tim tersebut dipimpin langsung Kepala Dinas P3A Lampung Selatan, dr. Nessi Yunita, MM. Turut hadir Konseling Psikologi Puji Lestari, S.Psi., beserta pejabat dan staf DP3A.
“Selain silaturahmi, kedatangan kami untuk memastikan langsung kondisi terkini keluarga, khususnya perkembangan kondisi anak,” jelas dr. Nessi Yunita.
Menurut Nessi, kunjungan tersebut tidak semata-mata dilakukan dalam kapasitas kedinasan, tetapi juga sebagai bentuk empati terhadap keluarga dan anak.
“Bukan karena tugas semata, mewakili pribadi dan pemerintah daerah kunjungan ini sebagai bentuk empati kami terhadap keluarga dan anak,” tambahnya.
Ia mengatakan, bersama tim assessment, konseling psikologi akan mendalami kondisi anak untuk menentukan langkah yang diperlukan dalam pemulihan psikologis.
“Bersama tim assessment, konseling psikologi akan mendalami kondisi anak sehingga DP3A bisa segera mengambil langkah-langkah yang konkret untuk memulihkan psikologi anak,” terangnya.
“Hasilnya nanti akan kami sampaikan kepada tim yang telah dibentuk, sebagai bahan pertimbangan kami,” tutupnya.
Sementara itu, Puji Lestari meminta agar orang tua dan lingkungan sosial tetap memberikan ruang yang aman bagi anak serta tidak memperparah kondisi dengan stigma yang beredar.
“Kami juga mohon peran orang tua dan ruang sosial anak tetap terlindungi dari stigma yang beredar,” ujar Puji Lestari, sarjana psikologi tersebut.***









