SAIBETIK- Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) mematangkan pengembangan sistem pusat komando (command center) terpadu berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Fasilitas digital tersebut disiapkan untuk memperkuat pengawasan satwa liar, memetakan koridor lintasan gajah, sekaligus mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kejahatan kehutanan secara waktu nyata (real-time).
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, menargetkan sistem tersebut dapat mengidentifikasi biodata setiap individu gajah secara presisi melalui integrasi data visual dan posisi berbasis GPS.
“Pengembangan sistem command center ini dirancang multifungsi, mulai dari mengenali data biologis satwa, memitigasi potensi perburuan dan pencurian, hingga menganalisis korelasi data satwa guna memetakan jalur jelajah gajah sesuai perubahan musim,” ujar Sriyanto di kawasan TNWK, Selasa (22/9/2026).
Untuk mendukung basis data pembelajaran mesin (machine learning), komite mengerahkan tim Terra Drone yang mengoperasikan wahana nirawak jenis M1 Drone.
Pengambilan sampel visual dilakukan secara intensif pada pagi dan sore hari dengan menyasar kantong-kantong populasi satwa di Camp Elephant Response Unit (ERU) dan Pusat Latihan Gajah (PLG).
Setiap individu gajah diambil sebanyak 30 foto serta rekaman video 360 derajat yang memutar.
“Target pengumpulan data visual gajah sebagai materi pembelajaran AI ditargetkan rampung dalam satu hingga tiga hari ke depan,” jelasnya.
Selain pengawasan satwa, Sriyanto menegaskan sistem pusat komando tersebut juga menjadi salah satu ujung tombak dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Empat wilayah yang dinilai rawan kebakaran hutan, yakni Braja Luhur, Braja Kencana, Karang Anyar, dan Wako, dipantau secara berkala dan terpusat melalui monitor dasbor.
Sistem digital tersebut turut dilengkapi perangkat simulasi peringatan dini (early warning system) yang mampu membaca indikasi tindak kriminalitas kehutanan serta mengukur tingkat keparahan karhutla.
Untuk mendukung langkah mitigasi secara langsung di batas kawasan, komite juga mendemonstrasikan integrasi perangkat pengeras suara (speaker) dan mikrofon peringatan jarak jauh.
Perangkat tersebut digunakan untuk menghalau perambahan maupun mencegah kawanan satwa mendekati permukiman warga di desa penyangga.
Pengembangan command center berbasis AI ini diharapkan dapat memperkuat pemantauan pergerakan gajah, pengawasan kawasan konservasi, serta respons terhadap potensi gangguan terhadap satwa dan ekosistem TNWK.***





