oleh

Pendidikan Literasi Media Pernah Masuk Kurikulum Sekolah, Masihkah Relevan Saat ini ?



SAIBETIK.com – Pada tahun 1970-an, pendidikan media masuk ke dalam kurikulum di sekolah menengah di negara-negara di Eropa dan Amerika Latin. Tujuannnya untuk membantu menghapuskan kesenjangan sosial akibat ketidaksetaraan akses terhadap informasi.

Apakah tujuan demikian masih relevan sampai saat ini?

Literasi media, Sudah ada sejak kerajaan Budha dan Hindu di Indonesia, dengan adanya bahasa Sangsakerta, dan huruf Pallawa. Kemudian, berkembang zaman kerajaan Islam pada abad ke-13, dengan adanya bahasa Arab Melayu, Arab-Jawa, yang menjadi tanda adanya komunikasi antara warga, walaupun dalam hal sederhana.

Selanjutnya, Zaman Penjajahan atau perjuangan kemerdekaan. Zaman pemerintahan Orde Lama, ada zaman Presiden Soekarno. Zaman pemerintahan orde baru, 32 tahun presiden Soeharto. Zaman Reformasi sampai saat ini.

Dan Literasi media zaman sekarang diwarnai media sosial dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sehingga Pendidikan media, literasi media sangat relevan untuk diterapkan pada kurikulum diera media baru yang berkembang semakin pesat.

Masyarakat wajib untuk memiliki pengetahuan terhadap media, dengan alasan bahwa anak-anak sulit terhindarkan lagi dari berbagai tayangan televisi sehingga pendidikan literasi ini perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Program ini sangat ideal kalau bisa masuk di kurikulum sekolah, karena bisa terintegrasi dengan pelajaran yang ada, masuknya literasi media dalam kurikulum pendidikan akan memberikan manfaat bagi masyarakat untuk membentengi diri dari efek buruk tayangan televisi.

Baiknya, literasi media diberikan di setiap jenjang pendidikan, bahkan sampai pendidikan tinggi, seperti yang sudah dilakukan oleh sejumlah perguruan tinggi termasuk Universitas Bandar Lampung (UBL).

Baiknya lagi dimulai dari pendidikan sekolah dasar, dimana teknologi sudah sangat maju, cara mendapatkan informasi pun tidak hanya melalui media cetak tetapi juga melalui media digital.

Tentunya dengan kebanyakan pelajar yang sudah memiliki smartphone pribadi dengan akses internet, maka mendapatkan informasi juga lebih mudah dan tidak terbatas.

Literasi merupakan keterampilan yang dimiliki seseorang dalam bentuk kegiatan membaca, berpikir, menulis dan berbicara. Sebagai keterampilan dimana seseorang tahu bagaimana mempelajari dan memahami ide-ide atau informasi baru dengan baik untuk dapat menggunakan informasi tersebut ketika dibutuhkan.

Sehingga dengan adanya kurikulum ini diharapkan para siswa memiliki bekal literasi yang dapat membuat mereka terbiasa berpikir kritis dan memanfaatkan informasi yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari.

Ya, dengan masuknya media baru memang dapat membantu menghapuskan kesenjangan sosial akibat ketidaksetaraan akses terhadap informasi. Namun terkait hal ini membuat terjadi pergeseran paham radicalisme yang diciptakan dengan semakin mudahnya informasi tersebut diakses.

Sehingga dengan adanya kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media. Literasi media merupakan seperangkat perspektif yang digunakan secara aktif saat mengakses media masa untuk menginterpretasikan pesan yang di hadapi.

literasi media berusaha memberikan kesadaran kritis bagi khalayak ketika berhadapan dengan media. Kesadaran kritis menjadi kata kunci bagi gerakan literasi media. Literasi media sendiri bertujuan untuk, terutama, memberikan kesadaran kritis terhadap khalayak sehingga lebih berdaya di hadapan media.

Literasi media hadir sebagai benteng bagi khalayak agar kritis terhadap isi media, sekaligus menentukan informasi yang dibutuhkan dari media. Literasi media diperlukan di tengah kejenuhan informasi, tingginya terpaan media, dan berbagai permasalahan dalam informasi tersebut yang mengepung kehidupan kita sehari-hari.

Kesadaran kritis khalayak atas realitas media inilah yang menjadi tujuan utama literasi media. Ini karena media bukanlah entitas yang netral. Ia selalu membawa nilai, baik ekonomi, politik, maupun budaya. Keseluruhannya memberikan dampak bagi individu bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-hari. Untuk itu, khalayak harus bisa mengontrol informasi atau pesan yang diterima.

Siska Purnama Sari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed