SAIBETIK- Persoalan sampah organik rumah tangga masih menjadi tantangan lingkungan di banyak wilayah pedesaan, termasuk Desa Purworejo, Kecamatan Kota Gajah, Kabupaten Lampung Tengah. Kebiasaan membuang sisa dapur tanpa pengolahan tak hanya memicu bau tak sedap, tetapi juga berpotensi mencemari lingkungan dan menjadi sumber penyakit. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) 151 Institut Teknologi Sumatera (ITERA) hadir membawa solusi ramah lingkungan melalui edukasi dan praktik pengelolaan sampah organik metode Takakura.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa ITERA kepada masyarakat dengan tujuan mendorong perubahan perilaku warga dalam mengelola sampah rumah tangga secara mandiri, murah, dan berkelanjutan.
Sampah Organik Jadi Persoalan Lingkungan Desa
Berdasarkan hasil observasi lapangan mahasiswa KKN-PPM 151 ITERA, sebagian besar warga Desa Purworejo masih mencampur sampah organik dengan sampah lainnya, lalu membuangnya tanpa proses pengolahan. Praktik ini dinilai berisiko menurunkan kualitas kebersihan lingkungan desa serta mempercepat timbulnya pencemaran.
Melalui kegiatan sosialisasi, mahasiswa ITERA menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah, khususnya memisahkan sampah organik dan anorganik. Langkah sederhana ini menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif di tingkat rumah tangga.
Metode Takakura: Sederhana, Murah, dan Mudah Diterapkan
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-PPM 151 memperkenalkan metode Takakura sebagai alternatif pengolahan sampah organik. Metode ini menggunakan keranjang kompos yang diisi sampah sisa dapur dan bahan pendukung lainnya untuk menghasilkan pupuk kompos.
Metode Takakura dipilih karena prosesnya sederhana, tidak membutuhkan biaya besar, serta cocok diterapkan di lingkungan pedesaan. Selain mampu mengurangi volume sampah rumah tangga, hasil komposnya juga dapat dimanfaatkan untuk tanaman pekarangan dan pertanian skala kecil.
Praktik Langsung Bersama Warga
Tidak hanya berhenti pada sosialisasi, mahasiswa ITERA juga mengajak warga Desa Purworejo untuk melakukan praktik langsung pembuatan kompos menggunakan metode Takakura. Warga dilibatkan mulai dari proses pemilahan sampah, penyusunan keranjang kompos, hingga perawatan kompos agar dapat menghasilkan pupuk yang optimal.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat dan pemerintah desa. Salah satu perangkat Desa Purworejo menyampaikan apresiasi atas program yang dinilai aplikatif dan mudah dipraktikkan oleh warga.
“Program ini sangat bermanfaat dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Kami berharap warga bisa mulai mengelola sampah organik secara mandiri di rumah masing-masing,” ujarnya.
Dorong Desa Bersih dan Berkelanjutan
Melalui edukasi dan pendampingan ini, mahasiswa KKN-PPM 151 ITERA berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah organik dapat meningkat. Pengelolaan sampah yang baik diharapkan mampu menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, serta mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan berbasis partisipasi masyarakat.
Program ini sekaligus menjadi contoh nyata kontribusi perguruan tinggi dalam membantu menyelesaikan persoalan lingkungan di tingkat desa melalui pendekatan edukatif dan solutif.***







