SAIBETIK- Praktik pembakaran sampah terbuka atau open burning masih menjadi persoalan lingkungan serius di wilayah pedesaan. Selain mencemari udara, kebiasaan ini menyimpan ancaman kesehatan jangka panjang bagi masyarakat. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menghadirkan inovasi insinerator minim asap di Desa Bandarejo, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.
Inovasi tersebut diperkenalkan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) ITERA Periode ke-16 Kelompok 56 melalui peluncuran alat tepat guna berupa Insinerator Rocket Stove, Kamis (29/1/2026). Program ini menjadi upaya konkret melawan dampak buruk open burning yang selama ini dianggap sebagai cara paling praktis mengelola sampah desa.
Open burning ancam kesehatan warga
Berdasarkan hasil observasi mahasiswa KKN, sebagian besar warga Desa Bandarejo masih mengelola sampah rumah tangga dengan cara dibakar di lahan terbuka. Metode ini dinilai tidak menyelesaikan persoalan sampah, justru memindahkan polutan berbahaya ke udara bebas.
“Membakar sampah di tanah terbuka bukan menyelesaikan masalah, tetapi memindahkan racun ke udara. Suhu pembakarannya rendah sehingga menghasilkan asap berbahaya seperti dioxin dan furan yang berpotensi memicu kanker,” ujar Taufik Hidayat NST, perwakilan KKN-T ITERA Kelompok 56.
Dalam kegiatan sosialisasi, mahasiswa juga memaparkan dampak lain dari open burning, seperti meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak-anak dan lansia, rusaknya unsur hara tanah akibat sisa pembakaran, hingga menurunnya kualitas lingkungan desa akibat bekas bakaran.
Insinerator rocket stove jadi solusi minim asap
Sebagai solusi alternatif, Kelompok 56 memperkenalkan Insinerator Rocket Stove, alat pembakaran sampah dengan sistem aliran udara khusus yang memungkinkan pembakaran bersuhu tinggi dan lebih sempurna.
Berbeda dengan pembakaran konvensional, api pada insinerator ini terisolasi di dalam ruang bakar (chamber) sehingga asap yang dihasilkan jauh lebih sedikit. Sampah dapat terbakar lebih cepat dan berubah menjadi abu halus tanpa meninggalkan residu berbahaya.
“Keunggulan utama alat ini adalah pengendalian asap. Dengan suhu tinggi, pembakaran menjadi lebih sempurna dan asap diarahkan ke atas, sehingga tidak menyebar ke rumah warga,” jelas Mutiara Ferlina, anggota tim KKN-T ITERA Kelompok 56.
Insinerator ini dapat digunakan untuk membakar sampah residu seperti kertas terkontaminasi, sampah organik kering, dan kemasan makanan kering. Namun, alat ini tidak diperuntukkan bagi sampah logam maupun limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Dorong desa mandiri sampah
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, mahasiswa KKN-T ITERA Kelompok 56 secara simbolis menyerahkan Insinerator Rocket Stove kepada Pemerintah Desa Bandarejo sebagai alat percontohan pengelolaan sampah.
Insinerator tersebut dirancang dengan konstruksi sederhana dan biaya terjangkau, sehingga dapat direplikasi oleh masyarakat desa secara mandiri. Inisiatif ini mendapat apresiasi dari Kepala Desa Bandarejo, Sularto.
“Kami sangat berterima kasih atas program yang telah dilaksanakan mahasiswa KKN ITERA, mulai dari pemetaan desa hingga inovasi insinerator sampah yang sangat bermanfaat bagi warga,” kata Sularto.
Melalui inovasi insinerator minim asap ini, mahasiswa ITERA berharap Desa Bandarejo dapat bertransformasi menuju desa mandiri sampah, mengurangi praktik open burning, menjaga kualitas udara, serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi masyarakat.***








