SAIBETIK- Puisi “Program Masuk Surga” karya Muhammad Alfariezie menghadirkan kritik sosial-politik yang tajam melalui permainan absurditas dan ironi.
Secara tematik, puisi ini jelas menyoroti jurang antara janji kebijakan yang “tinggi” dengan realitas masyarakat yang justru tak tersentuh manfaatnya.
Program Masuk Surga
Kebijakan Garuda berisi program-
program jauh di atas awan yang
musykil kita sentuh
Jangankan seujung kuku, melihat
saja sudah lebih dari masuk surga
maka neraka percaya Garuda
akan memijak tanah halaman kita
Hapus! Lebih bagus menusuk tikus
dengan wacana semut dan kita akan
berkoloni di area semangka
Tidak seperti sekarang hanya gerah
meratap hujan
2026
Sejak bait awal, frasa “program-program jauh di atas awan” menjadi metafora yang kuat. “Garuda” di sini bisa dibaca sebagai simbol negara, kekuasaan, atau elite pemerintahan—sesuatu yang megah, tetapi terlampau tinggi untuk dijangkau rakyat.
Selain itu, Garuda merupakan hewan yang sejauh ini hanya menjadi khayalan.
Imaji “awan” mempertegas jarak itu: kebijakan bukan hanya sulit diakses, tapi hampir mustahil disentuh. Bahkan, penyair menyindir bahwa “melihat saja sudah lebih dari masuk surga”—sebuah hiperbola yang menyiratkan betapa tidak realistisnya janji tersebut.
Kontras tajam muncul pada larik “maka neraka percaya Garuda akan memijak tanah halaman kita”. Ini ironi yang cerdas: “neraka” (simbol penderitaan rakyat) justru “percaya” pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar hadir.
Ada semacam kritik terhadap kepercayaan publik yang terus dipelihara, meski berulang kali dikhianati.
Masuk ke bagian tengah, puisi ini menjadi semakin absurd dengan diksi seperti “menusuk tikus dengan wacana semut” dan “berkoloni di area semangka”. Ini bukan sekadar permainan bahasa, melainkan bentuk satire.
Tikus sering diasosiasikan dengan masalah besar (korupsi, misalnya), sementara “semut” adalah hal kecil dan remeh—artinya, masalah besar ditangani dengan cara yang tidak relevan.
Sementara “area semangka” memberi kesan utopis sekaligus konyol, seolah solusi yang ditawarkan justru membawa masyarakat ke ruang yang tidak masuk akal.
Penutup puisi “Tidak seperti sekarang hanya gerah meratap hujan” memperlihatkan kondisi stagnan: rakyat tidak hanya menderita, tetapi juga terjebak dalam siklus keluhan tanpa perubahan nyata.
“Gerah” dan “hujan” adalah dua kondisi yang bertolak belakang, namun disatukan—menandakan kekacauan situasi sosial yang tidak logis.
Secara keseluruhan, kekuatan puisi ini terletak pada:
• Gaya bahasa satir dan absurd yang mengingatkan pada tradisi kritik sosial modern
• Metafora simbolik (Garuda, surga, neraka) yang mengandung lapisan makna politik
• Imaji paradoksal yang menggambarkan realitas yang kacau dan tidak sinkron
Namun, justru karena tingkat absurditasnya tinggi, puisi ini menuntut pembaca untuk aktif menafsirkan. Bagi pembaca awam, beberapa bagian mungkin terasa “liar” atau sulit dipahami, tetapi di situlah letak daya gugatnya—ia tidak memberi makna secara langsung, melainkan memancing kesadaran.
Singkatnya, karya ini adalah bentuk protes puitik terhadap utopia kebijakan—janji “surga” yang dijual kepada publik, tetapi tak pernah benar-benar turun ke “tanah halaman” rakyat.***





