• Redaksi
  • Tentang Kami
Saibetik.com
  • BERANDA
  • POLITIK
  • LAMPUNG
    • Bandar lampung
    • Lampung Barat
    • lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Way Kanan
  • NASIONAL
  • HUKUM & KRIMINAL
  • BISNIS DAN KEUANGAN
No Result
View All Result
Saibetik.com
  • BERANDA
  • POLITIK
  • LAMPUNG
    • Bandar lampung
    • Lampung Barat
    • lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Way Kanan
  • NASIONAL
  • HUKUM & KRIMINAL
  • BISNIS DAN KEUANGAN
Kamis, Januari 22, 2026
No Result
View All Result
Saibetik.com
No Result
View All Result
Home Lampung Bandar lampung

Ketika Bahasa Menjadi Senjata: Muhammad Alfariezie dan Imaji Kritik Sosial-Politik Bandar Lampung

Melda by Melda
22/10/2025
in Bandar lampung, PENDIDIKAN
Ketika Bahasa Menjadi Senjata: Muhammad Alfariezie dan Imaji Kritik Sosial-Politik Bandar Lampung

SAIBETIK— Penyair muda berbakat Muhammad Alfariezie kembali menunjukkan keahliannya dalam menggabungkan kekuatan bahasa, imaji visual, dan kritik sosial-politik dalam karya puisi yang memikat sekaligus provokatif. Lewat karya terbaru berjudul Benih Khianat di Kota Merdeka, Alfariezie tidak hanya menampilkan kecerdasan puitiknya, tetapi juga kemampuan membaca dinamika sosial-politik Kota Bandar Lampung dan menyulapnya menjadi manifesto moral yang tajam.

Alfariezie dikenal sebagai penyair yang mampu menggabungkan realisme sosial dengan imaji abstrak, menciptakan teks yang bisa dibaca pada banyak level. Dalam Benih Khianat di Kota Merdeka, ia menyoroti penyalahgunaan kekuasaan di tingkat lokal, menyasar kebijakan yang dianggap mengkhianati nilai-nilai kemerdekaan dan keadilan. Puisi ini menjadi ruang simbolik untuk mengekspresikan rasa kecewa sekaligus harapan, menampilkan keteguhan moral dalam bentuk bahasa puitik yang imajistik.

Analisis Imaji: Dari Benih hingga Daulat Rakyat

BeritaTerkait

Bedah Buku di Taman Budaya Lampung Ditutup Aksi Puisi Isbedy Stiawan ZS dan Putrinya

Pelabuhan Merak Ambil Peran Jaga Arus Logistik

Puisi dibuka dengan larik yang tegas:

“Masa depan Bandar Lampung
enggak boleh tumbuh dari
benih-benih khianat wali kota”

Di sini, Alfariezie menggunakan imaji benih sebagai simbol pertumbuhan yang ideal namun dirusak sejak awal. “Benih khianat” bukan sekadar metafora etis, melainkan representasi konkret dari tindakan atau kebijakan politik yang korup. Imaji ini mengingatkan pembaca bahwa fondasi moral sebuah kota harus bersih dari praktik manipulatif agar masa depan bisa berkembang dengan sehat.

Larik berikut menegaskan cita-cita sosial dan nasional:

“Bandar Lampung bercita-cita
Sama dengan Indonesia”

Kata-kata ini menempatkan Kota Bandar Lampung sebagai miniatur Indonesia, penuh harapan dan idealisme. Kontras langsung muncul ketika puisi menyinggung realitas pahit: “menjebak siswa untuk enggak berijazah demi ide penggila mencuil duit negara.” Alfariezie menghadirkan kontras visual yang kuat: wajah ideal vs. wajah bobrok dalam satu entitas, menciptakan kesadaran kritis bagi pembaca akan permasalahan struktural di kota.

Repetisi kata “kasihan” membangun imaji empatik dan sosial:

“Kasihan jika nanti sulit
membangun hijau klan digital”
“Kasihan bila ke depan terus
mengurus pra sejahtera”

Larik ini memunculkan citraan futuristik: kota yang hijau, modern, dan inklusif, namun terhambat oleh kebijakan buruk. Kata “kasihan” menegaskan ketidakadilan sosial yang dialami warga, menghadirkan rasa melankolis sekaligus kritik moral yang kuat.

Klimaks puisi muncul pada larik revolusioner:

“Kota ini merdeka bukan untuk
mereka yang bejat! Daulat
rakyat untuk kita yang hebat”

Di sinilah Alfariezie menampilkan imaji energi revolusi dan perlawanan kolektif. “Daulat rakyat” bukan sekadar slogan, tetapi simbol kebangkitan moral masyarakat sipil. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan sejati berada pada rakyat, bukan mereka yang menyelewengkan amanah.

Imaji sebagai Senjata Kritik Sosial dan Politik

Puisi ini menunjukkan kecerdikan Alfariezie dalam menggunakan bahasa sebagai senjata. Imaji seperti benih khianat, hijau klan digital, kota merdeka, dan daulat rakyat berfungsi tidak hanya sebagai hiasan puitis, tetapi sebagai alat berpikir dan kritik moral. Setiap imaji menggerakkan pembaca dari kesadaran lokal menuju refleksi sosial dan nasional. Struktur imaji ini memperlihatkan keterampilan penyair dalam menekankan pentingnya etika, transparansi, dan integritas dalam kehidupan publik.

Lebih dari sekadar kritik, Benih Khianat di Kota Merdeka adalah karya yang menegaskan identitas baru gaya kritik Lampung: imajistik, sosial-politik, dan reflektif. Penyair menggunakan imaji untuk membangun kesadaran kolektif, menantang pembaca untuk merenungkan kondisi moral kota dan peran mereka sebagai warga yang aktif.

Dengan demikian, puisi ini bukan hanya karya sastra, melainkan manifesto etika publik dalam bahasa puitik. Muhammad Alfariezie menunjukkan bahwa kemerdekaan sebuah kota hanya bisa tumbuh dari benih kejujuran, keberpihakan pada rakyat, dan keberanian untuk mengkritik secara cerdas dan imajistik.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: BandarlampungImajistikKritikSosialMuhammadAlfarieziePolitikLokalPuisiLampung
ShareTweetSendShare
Previous Post

Lampung Selatan Wujudkan Pembangunan Infrastruktur, Bupati Egi Resmikan Jalan Way Harong-Simpang Sidoharjo

Next Post

SMP 13 Bandar Lampung Jadi Sorotan! Kasus Bullying Terekspose, Masa Depan Gina Terancam

Next Post
SMP 13 Bandar Lampung Jadi Sorotan! Kasus Bullying Terekspose, Masa Depan Gina Terancam

SMP 13 Bandar Lampung Jadi Sorotan! Kasus Bullying Terekspose, Masa Depan Gina Terancam

Mahasiswa Unila Harumkan Lampung di Forum ASEAN, Angkat Isu Keadilan Gender dalam Transisi Energi

Mahasiswa Unila Harumkan Lampung di Forum ASEAN, Angkat Isu Keadilan Gender dalam Transisi Energi

Santri Lampung Diminta Jadi Penjaga Nilai Kebangsaan dan Penggerak Peradaban pada Hari Santri Nasional 2025

Santri Lampung Diminta Jadi Penjaga Nilai Kebangsaan dan Penggerak Peradaban pada Hari Santri Nasional 2025

Peringati Hari Santri Nasional, Bupati Pesawaran Ajak Santri Jadi Pelaku Peradaban Dunia

Peringati Hari Santri Nasional, Bupati Pesawaran Ajak Santri Jadi Pelaku Peradaban Dunia

Bupati Pringsewu Pimpin Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2025

Bupati Pringsewu Pimpin Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2025

No Result
View All Result

Berita Terbaru

Bebas Buta Huruf, Langkah Lapas Kalianda Siapkan Warga Binaan Kembali ke Masyarakat

Bebas Buta Huruf, Langkah Lapas Kalianda Siapkan Warga Binaan Kembali ke Masyarakat

21/01/2026
Sepak Bola Bukan Soal Estetika: Pelajaran Pahit dari José Mourinho

Sepak Bola Bukan Soal Estetika: Pelajaran Pahit dari José Mourinho

21/01/2026

Komisi IV Bongkar Anggaran Dinkes: Banyak Formalitas, Sedikit Dampak

21/01/2026
Literasi Perempuan Jadi Kunci Lampung Tengah Terang

Literasi Perempuan Jadi Kunci Lampung Tengah Terang

21/01/2026
Dari Sayap ke Mesin Gol: Evolusi Winger di Sepak Bola Modern

Dari Sayap ke Mesin Gol: Evolusi Winger di Sepak Bola Modern

21/01/2026
Saibetik.com

Saibetik.com bisa berkontribusi untuk pembangunan daerah, peningkatan ekonomi kerakyatan, mengajak masyarakat hidup sehat. Dengan membaca saibetik bisa lebih smart, trendy dan gaul.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Saibetik.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • POLITIK
  • LAMPUNG
    • Bandar lampung
    • Lampung Barat
    • lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Way Kanan
  • NASIONAL
  • HUKUM & KRIMINAL
  • BISNIS DAN KEUANGAN

© 2024 Saibetik.com - All Right Reserved