SAIBETIK- Dunia sastra kembali ramai oleh kemunculan suara muda yang tajam dan berani.
Penyair muda berbakat Muhammad Alfariezie mencuri perhatian publik lewat puisinya berjudul Tegar Alat Tukar, sebuah karya reflektif yang memadukan simbolisme kuat dengan kritik sosial yang menggugah kesadaran.
Tegar Alat Tukar
Anak-anak SMA Siger: tikar
pantai, tegar alat tukar
Petinggi partai hingga
guru berjilbab, berkacamata
dan berpeci hitam berjanggut
panjang beruban– tidak paham
betapa rapuhnya terduduk
di pasir, tersorot panas
gelombang
Mereka menimpahnya, rebah
memandang indah dan terus
mengupayakannya penghasil
uang sewa, mempromosikannya
sampai ke bapak tua berkendara
Honda Astrea
2
Anak-anak SMA Siger, tikar
pantai, tegar alat tukar
Pemiliknya kaya tapi
penyimpanannya asal taruh
tanpa lebih dulu mencicip
wangi
Tak pernah dicuci. Dilempar
masuk gudang, tergeletak
buyar tanpa tata
Mereka tikar, enggak bisa
bicara tak sanggup melawan
meski pengap dan gelap
tempat mereka sekarang
Anak-anak SMA Siger, tikar
pantai, tegar alat tukar
2026
Repetisi Larik Tekan Emosional
Puisi tersebut menampilkan metafora sentral “tikar” sebagai representasi manusia yang diperlakukan layaknya barang pakai dalam sistem sosial yang timpang.
Dengan repetisi larik “Anak-anak SMA Siger, tikar / pantai, tegar alat tukar”, penyair membangun tekanan emosional sekaligus menghadirkan ritme retoris yang mudah diingat.
Dehumanisasi Eksploitasi dalam Karya Estetis
Secara tematik, karya ini menyoroti persoalan dehumanisasi dan eksploitasi, terutama terhadap kelompok yang tidak memiliki kuasa untuk bersuara.
Imaji konkret seperti “pasir”, “panas”, dan “gudang gelap” mempertegas suasana keterasingan dan penelantaran, menjadikan puisi terasa bukan sekadar karya estetis, melainkan juga dokumen sosial puitik.
Keberanian Metafora Simbolik
Pengamat sastra menilai kekuatan utama puisi ini terletak pada keberanian metafora yang lugas namun simbolik.
Struktur repetitif yang ia gunakan memperlihatkan kematangan teknik, sementara pilihan diksi sederhana membuat pesan mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman makna.
Gaya ini menunjukkan kecenderungan penyair mengarah pada tradisi puisi kritik sosial yang menempatkan sastra sebagai medium kesadaran publik.
Lapisan Tafsir Non-Bahasa Rumit
Meski demikian, sejumlah kritikus mencatat bahwa kelugasan metafora membuat lapisan tafsir menjadi relatif langsung.
Namun bagi banyak pembaca, justru di situlah letak daya pukau karya ini: ia tidak bersembunyi di balik kerumitan bahasa, melainkan menampar realitas secara terbuka.
Posisi Penting Muhammad Alfariezie
Kehadiran Tegar Alat Tukar menegaskan potensi Muhammad Alfariezie sebagai salah satu suara muda yang patut diperhitungkan dalam lanskap sastra Indonesia kontemporer.
Jika konsistensi estetik dan keberanian tematik ini terus diasah, bukan tidak mungkin namanya akan segera menempati posisi penting di generasi penyair berikutnya.***








