SAIBETIK- Pemerintah Provinsi Lampung mempercepat hilirisasi ekonomi kreatif sebagai strategi utama meningkatkan nilai tambah produk lokal dan mendorong UMKM naik kelas. Komitmen ini ditegaskan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, saat mendampingi Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, berdialog dengan pelaku ekraf di El’s Coffee Roastery, Minggu (15/2/2026).
Nilai tambah komoditas jadi prioritas
Gubernur menyampaikan ekonomi Lampung masih didominasi sektor primer dengan PDRB mencapai Rp520 triliun pada 2025. Namun, sebagian besar komoditas keluar dalam bentuk mentah tanpa pengolahan lanjutan.
“Komoditas primer kami sekitar Rp150 triliun. Baru Rp40–50 triliun yang terhilirisasi. Sekitar Rp100 triliun belum terolah. Jika hilirisasi dilakukan, nilai satu gelas kopi bisa meningkat berkali lipat,” ujar Mirza.
Ia menegaskan hilirisasi ekonomi kreatif menjadi kunci memperkuat struktur ekonomi daerah, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing produk Lampung di pasar nasional hingga global.
UMKM butuh kurasi dan kolaborasi rantai pasok
Pemprov mencatat sekitar 480 ribu UMKM beroperasi di Lampung. Namun, sebagian besar bergerak pada produk serupa sehingga persaingan terjadi pada level bawah.
“Saya temukan ribuan merek keripik singkong. Kita perlu akurasi dan kurasi. Pelaku yang sudah go global harus membangun supply chain agar UMKM lain ikut tumbuh,” tegas Gubernur.
Ia menambahkan peningkatan daya beli masyarakat turut mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, terutama setelah harga gabah dan jagung di tingkat petani membaik.
Pariwisata dan ekraf saling menguatkan
Sektor pariwisata disebut menjadi pengungkit baru. Kunjungan wisatawan nusantara ke Lampung mencapai 24 juta orang pada 2025 dengan perputaran ekonomi sekitar Rp40 triliun. Tahun 2026, angka tersebut diproyeksikan meningkat 50 persen.
Pemprov Lampung berkomitmen mendampingi pelaku ekonomi kreatif melalui penguatan manajemen usaha, peningkatan kualitas produk, serta integrasi rantai pasok berbasis inovasi.
Pemerintah pusat siapkan akselerasi pembiayaan
Menteri Ekonomi Kreatif menyatakan industri kreatif global tumbuh dari negara dengan akar budaya kuat. Ia meyakini Lampung memiliki potensi serupa untuk bersaing di pasar internasional.
“Kami menyiapkan plafon KUR khusus sektor kreatif hingga Rp500 juta per pelaku usaha. Fokus kami adalah mendorong local hero menjadi national champion dan menembus pasar global,” ujar Riefky.
Ia juga mendorong penguatan kelembagaan daerah melalui pembentukan Dinas Ekonomi Kreatif sebagai akselerator pengembangan ekraf.***










