SAIBETIK – Suara mahasiswa di Lampung kembali menggema, kali ini melalui gerakan terkoordinasi Cipayung Plus Lampung. Organisasi mahasiswa ini menegaskan sikap tegasnya terhadap kondisi sosial-politik yang dinilai semakin mengekang kebebasan rakyat dan mahasiswa. Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan, Cipayung Plus menolak dibungkam, menolak tunduk pada tekanan, dan memilih turun ke jalan sebagai wujud nyata perjuangan mereka.
“Hari ini, kami berdiri tegak, bersuara lantang, dan menolak bungkam atas berbagai persoalan yang tengah mencekik rakyat dan mahasiswa. Kami menuntut adanya reformasi dalam cara institusi Polri menjalankan tugasnya agar lebih berpihak pada rakyat,” tegas juru bicara Cipayung Plus Lampung, Jumat, 30 Agustus 2025.
Rencana aksi besar dijadwalkan berlangsung pada Senin, 1 September 2025. Seluruh anggota Cipayung Plus Lampung akan bergerak serentak menuju Markas Polda Lampung. Aksi ini dimaksudkan sebagai momentum besar bagi mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi rakyat, menuntut transparansi, akuntabilitas, serta reformasi institusi Polri yang selama ini dinilai sarat dengan tindakan represif.
Lebih dari sekadar demonstrasi jalanan, gerakan ini didefinisikan sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan. Para mahasiswa menekankan bahwa mereka tidak hanya peduli pada isu nasional, tetapi juga memperjuangkan hak-hak masyarakat lokal yang sering terpinggirkan. Orator Cipayung Plus Lampung menegaskan, “Mahasiswa bukan sekadar pelengkap penderita, melainkan garda terdepan perjuangan bangsa. Setiap aksi kami adalah wujud nyata keberpihakan kepada rakyat!”
Solidaritas menjadi kata kunci dalam aksi ini. Cipayung Plus Lampung menyerukan agar semua elemen mahasiswa dan organisasi kepemudaan lainnya bersatu untuk menghadirkan aksi damai, terstruktur, dan efektif. Mereka juga mengingatkan bahwa sejarah pergerakan selalu ditulis oleh mereka yang berani melawan, bukan mereka yang diam.
Selain menyiapkan logistik dan jalur aksi, Cipayung Plus Lampung juga merencanakan kegiatan pendukung, termasuk doa bersama, orasi publik, dan penyebaran informasi melalui media sosial agar masyarakat luas memahami tujuan aksi. Dengan strategi ini, mereka berharap aksi 1 September tidak hanya menjadi unjuk rasa simbolik, tetapi juga mampu memicu dialog konstruktif antara masyarakat dan aparat keamanan.
Seruan mereka tegas: “Panjang umur pergerakan! Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!” Pesan ini menggema sebagai bentuk konsolidasi energi kolektif mahasiswa Lampung, menegaskan komitmen mereka untuk tetap berada di garis depan dalam memperjuangkan keadilan, demokrasi, dan hak-hak konstitusional warga negara.***