SAIBETIK- Pemerintah Kabupaten Lampung Timur menjadikan cocoa agroforestry berkelanjutan sebagai strategi utama untuk menjaga kelestarian hutan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan. Program ini diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang atas persoalan degradasi lahan dan kesejahteraan petani.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam diskusi program cocoa agroforestry berkelanjutan yang digelar di kelompok tani hutan 5 Desa Sidomulyo, Kecamatan Way Jepara, dengan melibatkan pemerintah daerah, mitra swasta, serta mitra internasional.
Kolaborasi Multipihak Dorong Agroforestry Kakao
Diskusi ini dihadiri pimpinan PT Olam Indonesia/OFI, tim Palladium dan Partnering for Forests (P4F), perwakilan UK Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO), mitra internasional, serta sejumlah kepala OPD di lingkungan Pemkab Lampung Timur.
Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada daerahnya sebagai lokasi pengembangan cocoa agroforestry berkelanjutan.
“Ini kehormatan sekaligus kepercayaan besar, terutama bagi masyarakat perhutanan sosial di Way Jepara dan sekitarnya,” ujar Ela.
Jawaban atas Tekanan Hutan dan Perubahan Iklim
Ela menjelaskan, Lampung Timur memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Namun di saat yang sama, wilayah ini menghadapi tekanan serius berupa degradasi lahan, ancaman kawasan hutan, serta dampak perubahan iklim yang langsung dirasakan masyarakat.
Menurutnya, penerapan perhutanan sosial berbasis agroforestry kakao menjadi pendekatan tepat karena menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pengelolaan hutan.
“Agroforestry kakao bukan sekadar sistem budidaya, tetapi pendekatan terpadu untuk rehabilitasi hutan, menjaga keanekaragaman hayati, menekan risiko perubahan iklim, dan memberi pendapatan berkelanjutan bagi petani,” jelasnya.
Kakao Ramah Lingkungan dan Akses Pasar Global
Program cocoa agroforestry berkelanjutan dinilai sejalan dengan visi pembangunan Lampung Timur yang berkelanjutan, berdaya saing, dan berkeadilan. Melalui praktik agroforestry yang baik, kakao diharapkan menjadi komoditas unggulan ramah lingkungan dengan nilai ekonomi tinggi.
Selain meningkatkan produksi, program ini juga diarahkan pada hilirisasi kakao, yakni pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri. PT Olam Indonesia menyatakan respons positif terhadap kualitas kakao yang dikembangkan petani Lampung Timur.
Penguatan Kelembagaan Petani Jadi Kunci
Bupati Ela mengapresiasi pendekatan PT Olam Indonesia, Palladium, dan P4F yang tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada pendampingan masyarakat, peningkatan kapasitas petani, serta penguatan kelembagaan KTH.
“Pemkab Lampung Timur berkomitmen penuh mendukung program ini melalui kebijakan, sinergi lintas OPD, dan fasilitasi agar berjalan optimal dan berkelanjutan,” tegasnya.
Ia juga mendorong KTH Sidomulyo menjadi contoh praktik baik pengelolaan agroforestry kakao berkelanjutan di Lampung Timur bahkan di tingkat Provinsi Lampung.***









