SAIBETIK- Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada akhir 2025 mengguncang Kabupaten Lampung Tengah. Bupati Ardito Wijaya, yang baru dilantik Presiden RI Prabowo Subianto pada Kamis, 20 Februari 2025, kini berstatus tersangka tindak pidana korupsi.
Situasi itu membuat roda pemerintahan tak punya pilihan selain terus berjalan. Wakil Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, resmi memegang amanah konstitusi sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Tengah.
Namun di balik peralihan kekuasaan yang tiba-tiba itu, tersimpan cerita yang jauh dari kesan elite dan kemewahan.
> “Pak Komang masih belum percaya bisa berada di posisi seperti sekarang ini,” ungkap orang-orang terdekatnya, Senin, 19 Januari 2026.
Ungkapan itu seakan menegaskan bahwa semua terjadi bukan melalui skenario matang, melainkan seperti aliran sungai yang tiba-tiba bermuara ke laut luas bernama rezeki.
Dari OTT KPK hingga Isu Politik
Tak sedikit pihak yang mengaitkan peristiwa ini dengan intrik politik. Ardito Wijaya, yang pada Pilkada 2024 maju bersama I Komang Koheri dengan kendaraan PDI Perjuangan—satu-satunya partai pengusung yang berani melawan incumbent dengan koalisi besar—belakangan justru masuk sebagai kader Partai Golkar.
Spekulasi pun berkembang. Namun narasi itu perlahan meredup setelah publik melihat langsung bagaimana keseharian sosok yang kini memimpin Lampung Tengah.
Plt Bupati Naik Supra X, Tanpa Pengawalan
Sore menjelang malam, Senin itu, I Komang Koheri terlihat melenggang pulang ke rumah pribadinya dengan mengendarai motor Supra X 125 berwarna silver hitam. Tidak ada iring-iringan, tidak pula mobil dinas.
Ke mana dia pergi atau dari mana datangnya, tak banyak yang tahu. Yang jelas, Lampung Tengah sedang berada di persimpangan penting, dan Komang Koheri kini berdiri di titik pusatnya.
Mampukah ia menjaga stabilitas daerah yang sudah berkali-kali dilanda badai korupsi?
Politikus Berpengalaman, Tak Asing dengan Tekanan
Dari sisi pengalaman, I Komang Koheri bukan nama baru. Suami dari Ni Ketut Dewi Nadi, politikus dua periode DPRD Provinsi Lampung, telah malang melintang di panggung politik.
Ia pernah menjabat Ketua Paguyuban Bali, memenangkan pertarungan politik lokal, hingga duduk sebagai anggota Komisi VIII DPR RI periode 2019–2024. Pada Pileg 2025–2029, langkahnya justru mengarah ke eksekutif—sebuah jalan yang kini terbuka lewat takdir yang tak terduga.
Kemenangannya bersama Ardito Wijaya pada Pilkada 2024 pun tergolong fenomenal. Dengan satu partai pengusung, mereka berhasil mengalahkan petahana.
Lampung Tengah Terang”, Langkah Awal Plt Bupati
Belum genap sebulan menjabat Plt Bupati pasca-tragedi OTT KPK, I Komang Koheri mulai membeberkan langkah awalnya.
Dalam pertemuan singkat Senin sore hingga menjelang pukul 20.00 WIB, ia menyampaikan program “Lampung Tengah Terang”.
“Yang pertama, kita ingin membuat Lampung Tengah terang. Ini tidak menggunakan APBD, tapi memanfaatkan Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU). Untuk perawatan, selama tujuh bulan akan ditanggung pihak pelaksana,” ujar Komang Koheri.
Program itu tak sekadar soal lampu jalan. Di tengah trauma publik—mengingat sudah tiga bupati Lampung Tengah terseret kasus korupsi—kata terang mengandung makna yang lebih dalam.
Harapan Baru di Tengah Trauma Korupsi
Lampung Tengah pernah dipimpin Andi Achmat, Mustafa, dan terakhir Ardito Wijaya—semuanya tersandung perkara hukum. Kini, masyarakat berharap kabupaten ini tidak hanya terang secara fisik, tetapi juga secara moral dan tata kelola.
Di bawah kepemimpinan I Komang Koheri, jargon Lampung Tengah Terang diharapkan menjadi simbol pemerintahan yang lebih terbuka dan transparan.
Sebagai putra berdarah Bali, Komang Koheri membawa nilai Pawongan—harmoni antar sesama manusia—serta Karma Phala, keyakinan bahwa setiap perbuatan akan berbuah balasan.
Dengan falsafah itu, publik menaruh harapan agar sistem anggaran lebih terbuka, pembangunan ekonomi bergerak, dan sumber daya manusia benar-benar dimanusiakan.
I Komang Koheri mencatat sejarah sebagai kepala daerah berdarah Bali pertama di Provinsi Lampung. Menjaga nama baik di tengah krisis bukan perkara mudah. Namun masyarakat percaya, niat baik yang dijalankan dengan ketulusan akan berbuah ranum.
Tat Twam Asi.
Manacika, Wacika, dan Kayika—berpikir, berkata, dan berbuat baik.
Lampung Tengah kini menunggu: apakah terang itu benar-benar akan menyala?**









