• Redaksi
  • Tentang Kami
Saibetik.com
  • BERANDA
  • POLITIK
  • LAMPUNG
    • Bandar lampung
    • Lampung Barat
    • lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Way Kanan
  • NASIONAL
  • HUKUM & KRIMINAL
  • BISNIS DAN KEUANGAN
No Result
View All Result
Saibetik.com
  • BERANDA
  • POLITIK
  • LAMPUNG
    • Bandar lampung
    • Lampung Barat
    • lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Way Kanan
  • NASIONAL
  • HUKUM & KRIMINAL
  • BISNIS DAN KEUANGAN
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Saibetik.com
No Result
View All Result
Home Lampung Bandar lampung

Ketika Bandar Lampung Disamakan dengan Kaleng Bir: Kritik Tajam Penyair Muda

Melda by Melda
19/01/2026
in Bandar lampung, PENDIDIKAN
Ketika Bandar Lampung Disamakan dengan Kaleng Bir: Kritik Tajam Penyair Muda

SAIBETIK- Sebuah puisi menyebut Bandar Lampung bukan sebagai kota, melainkan kaleng bir bekas orang tidur di pinggir jalan. Metafora itu terdengar kasar, bahkan tak sopan. Namun bagi Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Bandar Lampung, ungkapan tersebut bukan sekadar provokasi—melainkan potret jujur tentang kota yang keras, berkarat, dan berpotensi melukai warganya sendiri.

Puisi berjudul “Kaleng Bir” itu kini menarik perhatian pembaca sastra dan pegiat isu sosial. Dengan bahasa sederhana namun tajam, Alfariezie menghadirkan kritik kota yang jarang muncul dalam narasi pembangunan dan pencitraan daerah.

Kaleng Bir

Bandar Lampung kaleng bir
bekas orang tidur pinggir
jalan. Ibu marah ketika saya
bilang begitu. Walau tempat
minum bekas hidup orang
pinggir jalan, Bandar Lampung
ialah yang halal– menurutnya

BeritaTerkait

Ribuan Pelari Meriahkan HS Run Lampung 2026

Puisi Isbedy Lolos Antologi “Air Mata Sumatera” di Padang Panjang

Tapi saya heran, dan mungkin
ibu kurang paham. Bandar
Lampung kaleng bir bekas orang
tidur pinggir jalan, bukan botol
bekas Aqua maupun Aquiviva

Seperti yang haram, Bandar
Lampung enggak menjamin
hidup Anda sehat sejahtera

Bandar Lampung, tajam
berkarat dan kita bisa
terluka. Sepertinya, tetanus
hingga tersiksa

2026

 Kota yang Direduksi Menjadi Benda Buangan

Sejak baris pembuka, puisi ini langsung menyerang kesadaran pembaca:

“Bandar Lampung kaleng bir
bekas orang tidur pinggir jalan”

Bandar Lampung tidak digambarkan sebagai kota modern, ibu kota provinsi, atau pusat ekonomi. Kota itu justru direduksi menjadi benda sisa, barang sekali pakai yang tergeletak di pinggir jalan—tempat orang-orang bertahan hidup dalam kondisi paling minimal.

Kaleng bir di sini bukan sekadar objek, melainkan simbol. Ia mewakili sisa konsumsi kota, limbah urban yang ditinggalkan sistem, sekaligus menyimpan bahaya: tajam, berkarat, dan bisa melukai siapa saja yang menyentuhnya.

 Bukan Aqua, Bukan Kehidupan Layak

Dalam puisinya, Alfariezie dengan tegas membandingkan kaleng bir dengan botol air mineral:

“bukan botol bekas Aqua maupun Aquiviva”

Perbandingan ini mengandung kritik kelas yang kuat. Air mineral identik dengan kebersihan, kesehatan, dan standar hidup layak. Sementara kaleng bir bekas adalah simbol hidup darurat—apa yang tersisa bagi mereka yang tidak pernah benar-benar diperhitungkan dalam perencanaan kota.

Kota, dalam pandangan penyair, menyediakan fasilitas berbeda untuk warganya. Ada yang minum air bersih, ada yang hanya mendapat sisa.

“Halal”, Tapi Tidak Manusiawi?

Konflik paling menarik dalam puisi ini muncul lewat figur ibu. Sang ibu marah ketika sang penyair menyamakan Bandar Lampung dengan kaleng bir bekas orang pinggir jalan. Menurutnya, meski tempat minum itu bekas kaum marginal, Bandar Lampung tetap “halal”.

Di sinilah ironi tajam muncul. Alfariezie mempertanyakan makna halal jika kota yang sah secara moral dan administratif justru gagal menjamin kehidupan warganya.

“Seperti yang haram,
Bandar Lampung enggak menjamin
hidup Anda sehat sejahtera”

Larik ini tidak menyerang agama, tetapi cara berpikir yang terlalu sibuk dengan simbol moral, sementara realitas sosial dibiarkan luka.

 Kota yang Melukai Perlahan

Bagian penutup puisi menjadi klimaks kritik:

“Bandar Lampung, tajam
berkarat dan kita bisa
terluka. Sepertinya, tetanus
hingga tersiksa”

Bandar Lampung digambarkan sebagai benda berkarat—tidak langsung membunuh, tetapi melukai secara perlahan. Tetanus menjadi metafora kuat tentang luka kecil yang diabaikan, namun berujung penderitaan serius.

Ini adalah kritik tentang kelalaian struktural: kota yang tampak berjalan normal, tetapi diam-diam menyimpan bahaya bagi mereka yang paling rentan.

 Suara Penyair Muda dan Kritik Kota

Dalam peta sastra Indonesia kontemporer, “Kaleng Bir”menempatkan Muhammad Alfariezie sebagai bagian dari generasi penyair muda yang berani membaca kota dari sisi paling gelap. Ia tidak menawarkan solusi, tidak berkhotbah, tetapi menyodorkan cermin.

Bandar Lampung, dalam puisi ini, bukan sekadar lokasi geografis. Ia adalah simbol kota mana pun yang mengaku layak, namun menutup mata pada warganya yang hidup di pinggir jalan.

Ketika Puisi Menjadi Gugatan

Puisi “Kaleng Bir” menunjukkan bahwa sastra masih memiliki fungsi penting: menggugat. Bukan dengan teriakan, tetapi dengan metafora sederhana yang sulit dilupakan.

Kaleng bir itu mungkin kecil dan dianggap remeh. Namun seperti karat dan tetanus, ia menyimpan luka—dan puisi ini memaksa kita untuk melihatnya.

Catatan Redaksi

Puisi “Kaleng Bir” ditulis oleh Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Kota Bandar Lampung, pada tahun 2026.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: * Sastra LampungBANDAR LAMPUNGisu perkotaankritik kotaMuhammad Alfarieziepenyair mudapuisi Kaleng Birpuisi sosial
ShareTweetSendShare
Previous Post

Dari Panggung Musik ke Aksi Kemanusiaan, HS dan Slank Bantu Korban Bencana Sumatera

Next Post

Sambut PTSL 2026, Kantor Pertanahan Pringsewu Perkuat Kesiapan Petugas

Next Post
Sambut PTSL 2026, Kantor Pertanahan Pringsewu Perkuat Kesiapan Petugas

Sambut PTSL 2026, Kantor Pertanahan Pringsewu Perkuat Kesiapan Petugas

No Result
View All Result

Berita Terbaru

Sambut PTSL 2026, Kantor Pertanahan Pringsewu Perkuat Kesiapan Petugas

Sambut PTSL 2026, Kantor Pertanahan Pringsewu Perkuat Kesiapan Petugas

19/01/2026
Ketika Bandar Lampung Disamakan dengan Kaleng Bir: Kritik Tajam Penyair Muda

Ketika Bandar Lampung Disamakan dengan Kaleng Bir: Kritik Tajam Penyair Muda

19/01/2026
Dari Panggung Musik ke Aksi Kemanusiaan, HS dan Slank Bantu Korban Bencana Sumatera

Dari Panggung Musik ke Aksi Kemanusiaan, HS dan Slank Bantu Korban Bencana Sumatera

19/01/2026
Banjir di Fly Over Natar, Pemkab Siapkan Solusi Permanen

Banjir di Fly Over Natar, Pemkab Siapkan Solusi Permanen

18/01/2026
Polres Lampung Selatan Perkuat Pengawasan Kesehatan Dapur SPPG

Polres Lampung Selatan Perkuat Pengawasan Kesehatan Dapur SPPG

18/01/2026
Saibetik.com

Saibetik.com bisa berkontribusi untuk pembangunan daerah, peningkatan ekonomi kerakyatan, mengajak masyarakat hidup sehat. Dengan membaca saibetik bisa lebih smart, trendy dan gaul.

  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2024 Saibetik.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • POLITIK
  • LAMPUNG
    • Bandar lampung
    • Lampung Barat
    • lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Way Kanan
  • NASIONAL
  • HUKUM & KRIMINAL
  • BISNIS DAN KEUANGAN

© 2024 Saibetik.com - All Right Reserved