SAIBETIK – Baca puisi online “Dua Penyair Satu Komal” berhasil digelar di TikTok pada Rabu, 31 Desember 2025 malam. Acara ini menghadirkan Isbedy Stiawan ZS dari Lampung dan Syaifuddin Gani dari Kendari, Sulawesi Tenggara, yang tampil bergantian meski hujan mengguyur dan sempat mengkhawatirkan koneksi internet.
Acara yang dipandu tiktoker Kata Hati Mala dari Sidoarjo ini menarik perhatian ribuan netizen. Beberapa hanya mampir sebentar, namun banyak juga yang setia mengikuti sampai acara selesai. Tidak hanya membaca puisi, sesi tanya-jawab menjadi bagian paling interaktif, di mana tiga peserta terbaik—Eros, Mustofa Sidik, dan Alip Putra Siprama—mendapat hadiah atas pertanyaan yang edukatif dan membangun diskusi.
Penyelenggara, Lamban Sastra dan Pustaka Kabanti, menghadirkan dukungan dari sponsor Habbats Drink Bandung melalui akun Catatan Biru. Kehadiran Bode Riswandi, penyair sekaligus sutradara, menambah dimensi diskusi sastra. “Saya mendukung acara baca puisi di TikTok karena ini menjadi sarana mengenalkan puisi ke masyarakat luas. InsyaAllah jika masih mampu, saya dukung,” kata Bode.
Syaifuddin Gani membagikan pengalaman pribadinya melalui status Facebook pada Kamis, 1 Januari 2026. Ia menyebut live TikTok semalam merupakan debutnya dalam format Komal—singkatan dari Kolaborasi Massal atau Komunikasi Massal—di mana peserta bisa join ke live host untuk interaksi langsung, menambah visibilitas akun, followers, serta berkesempatan mendapatkan gift. Syaifuddin menilai fitur Komal ini memberikan pengalaman baru dalam membaca dan membahas puisi secara digital.
Acara tidak hanya menampilkan pembacaan puisi, tetapi juga diskusi mendalam mengenai tema personal dan sosial dalam puisi, tegangan antara konvensi dan inovasi, kiasan dalam bahasa puisi, hingga cara memasyarakatkan sastra di kalangan Gen Z dan Gen Alpha. Isbedy, yang dikenal sebagai Paus Sastra Lampung, berbagi proses kreatifnya, sementara Syaifuddin menyoroti pengalaman profesionalnya di BRIN yang ikut membentuk perspektif puisinya.
“TikTok memberi ruang unik untuk sosialisasi puisi. Ada percakapan intim antara penyair dan audiens, terutama generasi muda yang aktif di platform digital. Di sinilah puisi menemukan generasi pembaca dan penikmatnya secara langsung,” kata Syaifuddin. Menutup acara, meski masih ada pertanyaan dan sapaan yang belum terbaca, keduanya sepakat bahwa format live TikTok Komal membuka jalan baru bagi penyebaran sastra di era digital.***






