oleh

Tegur Petugas, Wali Kota Eva Minta Bambu Kuning Kinclong

BANDAR LAMPUNG – Tidak hanya flayover yang dipercantik, Wali Kota Eva Dwiana juga akan membenahi pasar Bambu Kuning sebagai trade center di Kota Bandar Lampung.

Saat meninjau Pasar Bambu Kuning, Rabu (14/4/2021), Wali Kota Eva Dwiana meminta para petugas pengelola untuk membersihkan dan memperbaiki fasilitas di pusat belanja tersebut. 

Wali Kota Eva Dwiana juga menegur petugas kebersihan, karena kondisi pasar yang menjual beragam produk makanan, pakaian dan kebutuhan rumah tangga itu tampak kotor dan tidak terawat.

“Kalau bayar tapi gak dibersihin ya sama saja bohong, nggak usah setor,” ujar Bunda Eva -sapaan akrab– Eva Dwiana.

Bunda Eva meminta, petugas terkait membenahi kondisi tersebut. Menginstruksikan kepada pihak terkait untuk  membersihkan lokasi dan memperbaiki eskalator dan pendingin ruangan.

“Kita ini kan mau bagus semua. Kalau dilihat (pendatang) pandangannya bagus lho. Bener nggak?. Udah berapa lama bapak di sini, lima tahun masa nggak ada perubahan. Saya minta tolong, pokoknya ini harus kinclong,” ujarnya saat menegur petugas.

Dalam kesempatan itu, para pedagang menyampaikan keluhan terkait adanya  retribusi sebesar Rp8 ribu/hari untuk kebersihan dan biaya keamanan pasar. Namun, sejumlah fasilitas yang dijanjikan pengembang belum teralisasi.

“Harapan kita sih bambu kuning lebih baik, fasilitas dihidupkan, karena dari awal belum ada fasilitas hidup sama sekali, seperti eskalator, ac, lantai tiga yang dijanjikan pengembang itu belum ada sama sekali,” ungkap pedagang Pasar Bambu Kuning Aryo Tanza.

Dalam keadaan pasar seperti ini tentunya akan membuat pengunjung gerah. Selain itu para pedagang juga mengeluhkan akses pintu-pintu masuk yang tertutup oleh lapak pedagang liar.

Ketua Pasar Bambu Kuning, Arnita, mengungkapkan hal lain yang dikeluhkan pedagang yakni akses Jalan Imam Bonjol menuju pasar kerap ditutup oleh Dinas Perhubungan.

“Di saat-saat hari besar menjadi momentum bagi para pedagang untuk mendapatkan penghasilan lebih. Kenapa ditutup, akhirnya muter. Terjadi di bulan puasa, padahal itu kalau bulan puasa saatnya panen,” pungkasnya.

Laporan Siska Purnama

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed